Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

#Puisi: Cuaca

Panas. Dan kalau begini, lebih baik aku saja yang jadi kekasihmu, pacarmu, dan pendampingmu.
Dingin. Matahari bersinar terik di luar sana. Cahayanya tak bisa kugapai dengan jari-jemariku. Kakiku tak memijak tanah hangat di bawahnya.
Aku ingin hidup bergelimang cahaya dan kehangatan tetapi bukan di bawah naungan cahaya buatan serupa lampu bohlam neon melainkan matahari.
Hatiku tak terbuat dari batu cadas tetapi adalah sebongkah es batu, yang pasti akan mencair apabila terkena gelombang panas cahaya matahari.
Air yang mengalir sampai jauh, yang menuruni lereng-lereng gunung, mengikis bebatuan lembah, dan mengukir dataran-dataran rendah, bawalah aku ke samudera.

Jumat, 14 Maret 2014

Kumpulan Puisi Ada Apa dengan Cinta (2002)

Kumpulan Puisi Ada Apa Dengan Cinta (AADC): Puisi Rangga dan Cinta (2002)
---

Puisi Rangga yang menang di lomba puisi yang di bawain juga oleh Cinta di Blues Kafe saat diajak oleh Rangga

Tentang Seseorang

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri

Aku benci
Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar

Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar
terdera
Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat
---

Puisi ini ada di pembuka film dengan latar lagu
sedih Suatu hari, di kamar Cinta, sepulang
sekolah, saat Alya menunjukan bekas luka gara-gara Ayahnya, diiringi gitar petikan gitarnya Cinta

Aku ingin bersama selamanya

Ketika tunas ini tumbuh,
serupa tubuh yang mengakar.
Setiap nafas yang terhembus adalah kata.
Angan, debur dan emosi bersatu dalam
jubah berpautan.
Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu
Maka setiap apa yang terucap adalah sabda
pandita ratu.

Hahhh
Di luar itu pasir
Di luar itu debu

Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada.
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu.

Jiwa ini tandu
Maka duduk saja
Maka akan kita bawa
Semua
Karena kita adalah satu.
---

Puisi Rangga (Nicholas Saputra) pada saat dia pamitan pada Cinta di bandara menjelang filmnya selesai.

Ada Apa Dengan Cinta?

Perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
ada apa dengannya
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.
---

Lagu dari "Anda" berjudul "Tentang Seseorang"

Teruntukmu hatiku,
ingin ku bersuara
Merangkai semua tanya,
imaji yang terlintas

Berjalan pada satu,
tanya s ’lalu menggangguku
Seseorang, itukah dirimu kasih

Kepada yang tercinta,
inginnya ku mengeluh
Semua resah di diri,
mencari jawab pasti

[#:]
Akankah, seseorang,
yang ku impikan ‘kan hadir
Raut halus,
menyelimuti jantungku

[Reff:]
Cinta hanyalah cinta,
hidup dan mati untukmu,
mungkinkah semua tanya,
kau yang jawab

Dan tentang seseorang,
itu pula dirimu,
ku bersumpah akan mencinta

[Interlude]
[#] ~~ [Reff]
Oh ~ [Reff] (x2)

Sumber: http://www.ciungtips.com/2011/03/kumpulan-puisi-ada-apa-dengan-cinta.html?m=1

Minggu, 16 Februari 2014

#Puisi: Sebelum Kupergi

Apakah kamu tersenyum ketika melihatku?
Jika ya, aku senang membuatmu tersenyum
Jika tidak, aku meminta maaf dari hatimu
Jika tak terasa apa-apa, aku bahagia melihatmu

Kalaulah keinginganku masih menyala membara
Untuk berada di sini, untuk bernafas bebas
Untuk bercerita lebih lama,
Aku akan masih ada di sini
Meski bukan untuk siapa-siapa

Sabtu, 04 Januari 2014

#Puisi: Angin Malam

Kurindu saat bersamamu. Dalam kegelapan dekapan kekhawatiran berselimutkan hawa dingin. Rangkulan kasarmu dan sentuhan acakmu.
Malam ini kusendiri. Dan bayangmu lewat di benakku. Kuingin kau menyentuhku. Kuingin kau dalam dekapanku. Bayangmu saja tak cukup.
Dinginnya kamarku ini sedingin hatimu saat ini dan sebeku hatiku ketika itu. Dinginnya semilir di punggung tanganku butuh hangatmu membuatku tersadar: aku membutuhkanmu.

Jumat, 11 Oktober 2013

#Puisi: Tak Ada Bukti

Aku hanya akan malu oleh diriku, di depan orang tuaku dan semua orang siapapun itu: aku tak bisa buktikan bahwa aku mampu berdikari.
Tak akan ada apapun yang bisa kuperlihatkan pada dunia, semua orang tak akan ada yang percaya apabila kuberkata: aku bisa! Tidak akan ada.
Habislah perkara begitu saja. Setelahnya aku sendiri kembali merenungi dan menyesali: aku tiada mampu berguna.
Kepada ayah dan ibu, tak akan luntur sedih mereka dalam hitungan hari beribu-ribu: apabila aku terus begitu dan begini tiada berubah.
Aku belum bisa dan mungkin tak akan bisa jadi anak kebanggaan mereka berdua: tiada bukti untuk itu, tiada buktinya.
Aku hanya akan malu oleh diriku, di depan orang tua dan semua orang siapapun itu: aku tak bisa buktikan bahwa aku mampu berdikari. Berdiri di kaki sendiri. #Puisi

Senin, 07 Oktober 2013

#Catatan #Puisi Mesin Fotokopi

Tak ubahnya aku bagaikan mesin fotokopi
Setiap kata kutulis setiap hari
Dari mulut dan dari tangan-tangannya
Dari sungut dan juga angan-anganya

Aku tulis dalam beribu lembaran
Aku serat dengan setiap gurat
Aku sang mesin pencetak
Aku menggandakan setiap kata berdetak

Begitulah yang aku lakukan setiap hari di kelas. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki banyak kekurangan, aku hanya bisa pasrah menerima semua ilmu yang diberikan sang pengajar. Sedikit sekali aku berbicara di kelas. Aku bahkan tidak berbicara kecuali apabila ditanya. Malang sekali. Ayo, belajarlah berbicara, seperti bayi yang baru saja dilahirkan! Ayo, ini ajakan mulia. Dan dosenku menyarankan begitu juga karena bicaraku kurang sekali. Ayo!

Minggu, 29 September 2013

#Puisi: Ingat Ini Tak Perlu Diingat

Aku lahir suatu malam dulu
Sudah lama itu berlalu

Aku lahir ke dunia ini
Dunia mengagetkanku kala kusendiri

Aku bertumbuh di dunia
Berlalu waktu tanpa terduga

Aku hidup selama itu
Tak usah ragu pada sang waktu

Aku hidup sampai sebesar begini
Aku mau berguna hidupku ini

Aku sudah lama berkelana
Tak pula aku berbaju bercelana

Aku sudah lama sekali
Tak menangis dipangkuan ibu

Oh, aku sudah dewasa
Banyak hal telah kurasa

Aku mau kamu tak usah lagi
Ingatkan semua ini lagi

Aku lahir hidup dewasa lalu tua
Tinggal tunggu saat kumati saja

#Puisi: Ketika Aku Dilahirkan (28 Oktober)

Ketika aku dilahirkan
Malam gelap
Tengah malam hampir saja
Tenang langit penuh bintang
Dan rembulan sedikit saja bersembunyi

Ketika aku dilahirkan
Ketika itu ibuku belum beranak
Ayahku belum berputera ketika itu
Ketika itu nenek-kakekku masih sehat walafiat
Ketika keluargaku berbahagia

Ketika aku dilahirkan
Dunia tenang tenteram tertidur
Malam gelap dan kelam
Ibuku berjuang keras
Dan ayahku berdoa penuh harap

Ketika itu tengah malam, hampir saja
Belum lewat hari masehi kemarin
Baru beberapa jam saja berlalu, hijriyah
Ketika aku dilahirkan
Akulah anak pertama orang tuaku

Ketika aku dilahirkan
Ketika itu semuanya berbahagia
Dan aku menangis
Aku menangis dunia mengagetkanku
Ketika itu terjadi dua puluh satu tahun lalu

Jumat, 20 September 2013

#Puisi: Tertutup Untukmu

Kau ketuk pintuku
Kau ketuk sekali lagi
Tapi kutak bukakan pintuku
Tapi kutak izinkan kau masuk
Tak kubiarkan kau datang
Tak ingin kuterganggu olehmu
Dan kau ketuk pintuku sekali lagi

Aku masih tak bergeming
Padamu kutak ingin lagi berpaling
Pergilah dari pintuku
Pintaku sekali dan lagi
Pergilah dari pintuku
Pergilah jauh kupinta padamu

Ternyata kauteguh pendirianmu
Kau tak mau pergi atas pintaku
Kupinta lagi sekali agar kau
Menjauh darinya, pintuku
Ayo pergi, kutak ingin kau!

Selasa, 17 September 2013

#Monolog: Kutelah Lama Mati

Aku hanya ingat mati, memikirkannya seolah-olah aku memang telah mati. Aku merasa seolah-olah tak ada di dunia ini lagi dan aku mati. Aku yakin, kutelah lama mati.
Kuyakin kutelah lama mati. Berpisah dari kalian semua. Telah lama kurasa begitu sehingga yang kulakukan tidak seperti orang hidup atau seperti siapapun yang masih berharap hidup lebih panjang.

Senin, 16 September 2013

#Puisi Lupakan Saja Aku

Maafkan aku jika
aku pernah berbuat salah padamu
aku sering berkata kasar padamu
aku selalu menyusahkanmu

Apabila
aku selalu menyusahkanmu
aku sering menyakitimu
aku pernah membencimu

Maafkanlah
kali ini saja
tuk terakhir kalinya
sebelum aku pergi
tuk selamanya
dan takkan kembali lagi

Jika tidak, maka
lupakanlah aku
lupakanlah bahwa aku pernah
ada di sampingmu
menjadi temanmu
bersamamu

Lupakanlah segala
kesalahanku khilafku
ucapanku keluhanku kesedihanku
senyumku marahku dan kepercayaanku

Kumohon lupakanlah aku
Anggap saja kita
tak pernah bertemu
saling berkenalan
atau berlari bersama
Lupakanlah aku

Minggu, 15 September 2013

#Puisi 15.09.2013

Aku takkan menghubungimu lagi. Takkan pernah. Aku akan melupakanmu selamanya. Melupakanmu. Aku takka mengingatmu lagi. Tak akan lagi. #Puisi

#Puisi Tentangmu: Angin dan Kerikil

Tentangmu,

Aku kira kamu badai
ternyata kamu hanya angin
bertiup sepoi-sepoi
dan berbisik
menggelitik
Kamu memang tak merusak
tapi tetap berbahaya
bisa membuatku masuk angin
dan kemudian jatuh sakit
kamu tetap berbahaya
Dirimu mengalir
tidak seperti air
dirimu tak selalu ke bawah
kau bisa merasuk
dari kaki ke kepala
Kau buat kepalaku sakit
Kau membuatku kedinginan
menggigil dan ketakutan
kau buat diriku tak sadar
aku pingsan dan ketakutan
aku kedinginan dan tak sadar
Tapi sungguh
aku gembira saat kau berlalu
saat kau pergi begitu saja
aku merasakan senang
Kau memang bukan badai
melainkan angin biasa
bertiup sepoi-sepoi
meninggalkan rasa gundah gulana
lalu kau pergi
dan aku merasa kembali baik-baik saja
setelah kau berlalu

Tentangmu,

Kau bisa ada di mana saja
mudah ditemukan dan ditemui
kau bisa saja terinjak
olehku yang tak hati-hati
membuat jalanku oleng dan labil
Kau bisa saja buatku luka
berdarah dan perih
meski hanya goresan kecil
Kau bisa ada di mana saja
tidak seperti sang batu besar
yang segera kasat mata
terlihat jelas di mataku
mudah kuhindari
dan takkan kutabrak kau
bila saja kau adalah batu yang maha besar
Namun,
sayangnya kau adalah kerikil
tak segera terlihat olehku
yang tak awas ini
kauterinjak olehku
dan buatku luka atau jatuh terjerembab
Kau buatku tergores dan berdarah
hanya karena kau adalah kerikil
Aku senang
karena kau kecil dan mudah dilewati
tak seperti sang batu yang besar
yang mampu halangi jalanku
dan membuatku harus memutar
mencari jalan lain
Kau hanya kerikil kecil
yang mudah dilewati

#Esai Media Sosial sebagai Karya Sastra

Apa yang ditulis di sini [sosmed] harus dipahami seperti memahami sebuah karya sastra [cerpen, puisi, monolog], "aku" bukanlah si penulis.

Mengapa harus dipandang demikian?
Saya menulis status ini dan itu sebagai cara saya menghidupkan salah satu atau beberapa "alter ego" yang saya miliki. Karena ketika menuliskannya ada beberapa hal yang dipoles, diperindah: terutama redaksi kalimatnya.

Rabu, 11 September 2013

#Puisi (Kematianku) Begitu Dekat

Kematian memang lebih dekat daripada apapun. Dan itu yang membuatku takut, dan menghalangi rasa bahagia. Dia bisa di mana saja, kapan pun.
Kematianku begitu nyata menggantung di langit-langit. Menebarkan aroma busuk di udara. Kematianku telah datang padaku sejak bertahun-tahun lalu.
Aku berharap ia tak hanya datang tuk menakut-nakuti saja. Ayo, tunjukkan dirimu. Kutantang kamu tunjukkan mukamu. Jangan lagi buatku takut.
Aku harus menghadapi kematianku, siap atau pun tidak. Tapi aku tak boleh lagi takut. Karena dia selalu dekat denganku, detik demi detik.

Selasa, 10 September 2013

#Puisi Marah-marah

Aku marah
Aku kesal
Mengapa?
Mengapa harus terjadi seperti ini?
Mengapa harus berantakan seperti begini?

Aku marah dan kesal
Kepada apa yang telah terjadi

Aku marah-marah
Tidak kepadamu
Melainkan pada diriku

Aku marah
Sungguh marah lagi kesal
Aku menyesal merasa sial
Aku marah
Aku sungguh marah

Diriku sendiri telah salah
Telah begini dan begiru
Semuanya keliru
Tak seperti rencana
Tak sejalan dengan harapan

Aku marah!
Marah!
Sungguh marah!
Dan sangat marah!

Supaya kau tahu

#Puisi Doaku dan Mereka

Tanpa kukatakan, semoga lewat doa mereka mendengar lewat Ilahi Rabbi. Mereka pun berdoa kepada-Nya, sama sepertiku, untuk yang terbaik.
Lewat doa, kupinta yang kumau. Mereka berharap segala yang terbaik. Allah tahu mana yang akan lebih dulu terkabul. Jua kebaikan bagi mereka.
Doaku memang belum dikabulkan. Tapi aku tahu, inginku itu akan merugikanku bila hari ini dipenuhi. Dan Allah tahu kapan waktu paling tepat.
Maka hanya nasihat-nasihat inilah yang harus kudengar, ikuti, dan jalankan: bersabarlah, bersyukurlah, berbaik sangkalah! Dan tunggulah!
Tunggu waktu yang tepat. Itu lebih baik bagiku. Jangan terburu-buru. Jangan pernah. Tunggulah dan lihat apa yang terjadi kemudian. Bersabar!

Minggu, 08 September 2013

#Puisi Monolog Antara Kamu dan Aku

Tak ada lagi cerita kamu dan aku. Takkan ada kunjungan dariku. Tak ada lagi pesan singkat untukmu. Tiada lagi tentangku dan kamu.

Tak ada lagi tiket bioskop yang dibeli untuk berdua. Tak ada lagi kamu yang kutunggu di tangga. Tak ada lagi obrolan antara kita.

Tak akan lagi kunaiki bus itu. Yang mengantarkanku ke tempatmu. Tak akan lagi ada malam sepi sementara kamu disiku.

Kini kusendiri sepi seperti seharusnya. Tiada kamu kuharap lebih baik seperti sebelumnya. Kini kunikmati setiap detik tanpa tepi.

Kamis, 29 Agustus 2013

#Puisi: Setetes Minyak

Kutegaskan kembali
siapa diriku
Siapa aku

Jika ada sebejana air
Aku akan hanya menjadi
Setetes minyak
Yang tiba-tiba jatuh
Menetes tapi
Tak bercampur
Takkan pernah bercampur
Dengan air manapun

Begitulah aku
Setetes minyak dalam
Bejana penuh air

Rabu, 17 Juli 2013

Fire and Ice

Some say the world will end in fire,
some say in ice.
From what I`ve tasted of desire
I hold with those who favor fire.
But if I had to perish twice,
I think I know enough of hate
To say that for destruction ice
Is also great
And would suffice.

Robert Frost

Terjemahan Bebas:

Air dan Api

Ada yang bilang bumi akan binasa karena api
Ada yang bilang oleh es
Dari nafsu yang kurasakan
Aku berpihak kepada yang bisa memadamkan api
Andai kuharus mati dua kali
Kurasa kutahu banyak soal rasa benci
Kukira kehancuran karena es
Hebat juga
Dan memuaskan