Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

#Perumpamaan: Kapal Karam dan Seorang Pesakitan

Apabila Anda pernah sekali melihat seonggok kapal oleng yang hampir tenggelam dan pada akhirnya memang menghantam karang di dasar samudra, seperti itulah kiranya hidup seorang pesakitan pikiran ini. Dia sangatlah berputus asa dan menderita dalam hidupnya. Dia sedang mengalami kejatuhan. Dan dia hampir gila karena pikirannya sakit. Saat ini dia sedang mengalami proses menghantam karang di dasar samudra seperti sang kapal yang kau saksikan itu.

Sabtu, 04 Januari 2014

#Fragmen: Tepuk Tangan

Ketika semua orang di kelas bertepuktangan karena merasa kagum dan terhibur karena kerjaan si Zen --orang Padang itu-- aku merasa iri --walaupun aku juga merasa terhibur dan ikut tertawa bersama yang lain. Jelaslah, siapa yang tidak akan tertawa dan tanpa aba-aba akan memberikan tanggapan berupa tepuk tangan yang semeriah dan segegapgempita seperti ini. Si Zen ini telah benar-benar melontarkan lelucon di muka tiga puluh lima orang peserta kursus berserta seorang ibu pengajar. Dengan polosnya ia membuat kalimat bahasa Jerman menggunakan preposisi "wenn" "ketika" dengan menerjemahkan peribahasa populer dari bahasa Indonesia "sambil menyelam minum air" menjadi "wenn ich schwimme, trinke ich". Benar-benar lucu dan menggelikan. Dan ia pun sukses menghibur seisi kelas.
Lantas mengapa aku memiliki segumpal rasa iri dan secuil dengki? Apa yang dilakukannya memang sederhana dan sangat polos akan tetapi karena duniaku dulu adalah dunia yang penuh pujian maka aku merasa iri. Hal itu diakibatkan karena tiada lain dan tiadabukan karena dulu aku mendapatkan semua pujian dari prestasi-prestasi yang kumiliki. Di pundakku kubawa nama baik dan nama harum sekolah menengah pertama di mana aku menimba ilmu. Itu memang sudah lama terjadi --dulu sekali, dan sekarang tak lagi seperti itu-- dan telah menjadi kenangan indah dan manis peninggalan masa lampau, dan semua itu sudah tak lagi jadi milikku. Aku merasa kesepian.

Sabtu, 28 September 2013

#Esai: Gaya Bercerita "Aku" dalam Ceritaku

Ketika aku menulis (apapun itu fiksi ataupun non-fiksi terutama cerita pendek) yang ada dalam pikiranku adalah sebuah peristiwa yang aku alami sendiri dengan perubahan di sana-sini tetapi kusajikan melalui sudut pandang orang ketiga yang dalam cerita yang kutulis bercerita tentang tokoh lain ang dilihatnya. Secara lebih jelasnya: aku ingin bercerita tentang apa yang kualami dengan menempatkan aku sebagai "dia" melalui pencerita yang menyebut dirinya "aku". Ok. Bingung? Baca lagi dari kata pertama. Jadi maksudku adalah aku ingin bercerita melalui orang lain. Dan cara ini sudah menjadi gaya berceritaku yang khas. Silahkan baca beberapa postinganku di blog ini.

Minggu, 15 September 2013

#Esai Media Sosial sebagai Karya Sastra

Apa yang ditulis di sini [sosmed] harus dipahami seperti memahami sebuah karya sastra [cerpen, puisi, monolog], "aku" bukanlah si penulis.

Mengapa harus dipandang demikian?
Saya menulis status ini dan itu sebagai cara saya menghidupkan salah satu atau beberapa "alter ego" yang saya miliki. Karena ketika menuliskannya ada beberapa hal yang dipoles, diperindah: terutama redaksi kalimatnya.

Minggu, 01 September 2013

#Cerpen Kau Siapa?

<meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"><meta name="ProgId" content="Word.Document"><meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"><meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"><link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSISWA%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"><link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSISWA%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"><link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSISWA%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:worddocument>   <w:view>Normal</w:View>   <w:zoom>0</w:Zoom>   <w:trackmoves/>   <w:trackformatting/>   <w:punctuationkerning/>   <w:validateagainstschemas/>   <w:saveifxmlinvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:ignoremixedcontent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:donotpromoteqf/>   <w:lidthemeother>EN-US</w:LidThemeOther>   <w:lidthemeasian>X-NONE</w:LidThemeAsian>   <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript>   <w:compatibility>    <w:breakwrappedtables/>    <w:snaptogridincell/>    <w:wraptextwithpunct/>    <w:useasianbreakrules/>    <w:dontgrowautofit/>    <w:splitpgbreakandparamark/>    <w:dontvertaligncellwithsp/>    <w:dontbreakconstrainedforcedtables/>    <w:dontvertalignintxbx/>    <w:word11kerningpairs/>    <w:cachedcolbalance/>   </w:Compatibility>   <m:mathpr>    <m:mathfont val="Cambria Math">    <m:brkbin val="before">    <m:brkbinsub val="--">    <m:smallfrac val="off">    <m:dispdef/>    <m:lmargin val="0">    <m:rmargin val="0">    <m:defjc val="centerGroup">    <m:wrapindent val="1440">    <m:intlim val="subSup">    <m:narylim val="undOvr">   </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267">   <w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9">   <w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption">   <w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title">   <w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font">   <w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle">   <w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong">   <w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis">   <w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid">   <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text">   <w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision">   <w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph">   <w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote">   <w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis">   <w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis">   <w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference">   <w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference">   <w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title">   <w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><style> <!--  /* Font Definitions */  @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Chiller; panose-1:4 2 4 4 3 16 7 2 6 2; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:decorative; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> </style><!--[if gte mso 10]> <style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} </style> <![endif]-->  <div style=""><span style="font-size:100%;">
<br /></span></div>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 63pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:180%;"><i style=""><span style="font-family:Chiller;">Bahkan bulan di atas sana pun tak lagi menjadi sesuatu yang indah bagiku. Dan tak lagi menjadi teman dalam kesendirianku.<o:p></o:p></span></i></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 63pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;"><i style=""><span style="font-family:Chiller;"><span style="font-size:180%;">Aku begitu kesepian, dan selalu merasa sangat terkucil dari dunia. Aku merasa akulah sesuatu yang ada di dunia namun tak pernah merasakan eksistensiku ini. Eksis namun dianggap tak ada! Begitulah, aku yang ada namun telah dianggap tak ada.”</span><o:p></o:p></span></i></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Ungkap lelaki yang tinggal di rumah itu, rumah yang pintu dan jendelanya tertutup rapat. Bahkan, aku hanya tahu keadaan dirinya lewat surat-surat yang kudapatkan darinya setiap hati. Aku mengenalnya untuk pertama kali , pada suatu hari, ketika aku tengah lewat halaman rumah ini. Aku tak pernah masuk ke dalam rumah ini dan mungkin saja dia bisa melihatku lewat suatu lubang celah di kamarnya. Dia mungkin melihatku sebagai temannya, teman untuk curahan hatinya.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Walaupun aku tak tahu siapa dia, aku tahu ia bernama Nik dan kukira dia pastilah seorng laki-laki, meskipun mungkin saja namanya yang sebenarnya adalah Nikita – <i style="">atau nama perempuan lainnya</i>. Untuk kebaikanku sendiri, akan kuanggap di seorang laki-laki. Dan kuanggap pula, namanya itu terlalu panjang untuk diucapkan bahkan untuk dituliskan.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Benarkah dia merasa kesepian? Benarkah dia kesepian, dan butuh seorang teman? Tapi bagaimana aku bias membantunya keluar dari kesepian tanpa aku tahu apakah aku bias masuk ke dalam rumah ini. Akhirnya aku sadar, aku tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Jangankan aku bisa menolongnya, aku tak bias menemuinya.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Jangankan untuk itu, aku juga tak bias membalas surat-suratnya. Aku juga tak bias berbicara dengannya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Dan lebih parah lagi, aku tak tahu apakah ada jalan atau celah saja bagiku masuk ke dalam rumah ini.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Dan mengenai surat yang dia berikan padaku kemarin,<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 63pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:100%;"  ><span style="font-size:180%;">“Aku sebenarnya adalah manusia yang bisu, aku juga tuli, aku juga buta, aku juga cacat.”</span><o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Jadi, jika saja aku bicara apakah dia akan mendengarku? Apakah dia, juga bisa menjawab segala pertanyaanku tentang dirinya yang akan akan aku tanyakan nanti jika aku bertemu dengannya? Kemudian, bagaimana dia bisa menulis surat untukku kalau dia memang buta? Lalu, bagaimana mungkin dia bias hidup sendiri jika dia adalah seorang yang cacat? Terlalu mustahil, jika dia benar-benar sendiri.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Bagaimana bias dia hidup menyendiri di dalam rumah yang tertutup ini? Siapa yang mengurus segala keperluannya? Dan aku, harusnya bias membantunya jika dia benar-benar dalam kesepian. Aku harus menemaninya.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 53.65pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:100%;"  ><span style="font-size:180%;">“Aku sakit, aku lelah, aku kehilangan tenagaku, aku kesepian, aku ……………”</span><o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Tetapi hari ini, dia masih mengirimiku surat curahan hatinya.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Aku ingin bertanya, siapa sebenarnya dia? Sungguh misterius laki-laki ini.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm -0.35pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  >“Bunga-bunga pun bermekaran,<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm -0.35pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  ><span style=""> </span>Kemudian kupu-kupu pun dating,<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm -0.35pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  ><span style=""> </span>Kulihat taman menjadi sangat indah,<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm -0.35pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:100%;"  ><span style="font-size:180%;"> </span><span style="font-size:180%;">Dengan kehadiranmu, gadis cantik”</span><o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Aku bertanya, kapan dia akan keluar dari rumah tertutup ini?<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Aku bertanya, kapan dia keluar hari ini. Jika dia tahu betapa indahnya taman hari ini, maka kapankah dia keluar dari rumah ini. Mengapa dia tak menemuiku padahal aku menunggunya di luar sini.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Selama aku menunggu disini, tak ada seorangpun yang datang ketempat ini. Tak ada pula yang keluar dari rumah ini. Siapa, siapakah dia yang sebenarnya? Aku terus bertanya.<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 53.65pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  >“Aku ada, hadir didunia<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 53.65pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  ><span style=""> </span>Berusaha menghalau rasa kesepian yang melanda hari-hariku<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 53.65pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  ><span style=""> </span>Menaklukan rasa takut akan kesendirian<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 53.65pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:180%;"  ><span style=""> </span>Menyambut cinta yang datang<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 53.65pt 10pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style=";font-family:Chiller;font-size:100%;"  ><span style="font-size:180%;"> </span><span style="font-size:180%;">Ku mau mendapatkan cinta dari dunia"</span><o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Sekali lagi ingin kukatakan kepada siapapun, termasuk kepada dunia dan dirinya yang kesepian aku mau menjadi teman dalam hidupnya. Asalkan satu syarat saja di penuhi, dia harus mau keluar dari tempat yang mengurungnya. Keluarlah, dan tunjukkan dirimu, tunjukkan dirimu yang sebenarnya pada aku yang telah bersedia menjadi temanmu. Bukankah dia tahu bahwa dunia ini indah?<o:p></o:p></span></p>  <p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size:100%;">Aku memohon kepadanya sekali lagi, “<i style="">Keluarlah</i>”.<o:p></o:p></span></p>  <span style="line-height: 115%;font-family:&quot;;font-size:100%;"  >Aku ingin sekali bicara dengannya, bercengkrama untuk mengetahui lebihn jauh satu sama lain. Tapi tidak jika, dia tak keluar rumah.<span style="font-style: italic;"></span>
<br /></span>
Aku ingin bersenda gurau, bercanda dengannya saling bercerita hal-hal lucu. Aku juga mau curhat sebenarnya kepadanya.
Dengan begitu, kita pasti bisa menikmati indahnya dunia bersama-sama. Dunia ini indah jika aku bisa bersamamu.
Sungguh, aku berjanji dengan sungguh-sungguh kepada diriku. Aku pasti bisa meneaninya, bertolak dari yang ia katakan lewat suratnya,
“Matahari dan bulan,
Takkan pernah bisa terbit bersamaan.”
Keyakinan di jatiku berlainan, matahari dan bulan pasti bisa beriringan dalam peredarannya. Selalu aku bertanya, siapa dia? Tapi selalu aku tak mendapatkan jawaban darinya.
Aku terus-menerus mendatanginya di rumah yang tertutup itu. Tak bosan aku menunggunya keluar dari rumah itu.
Aku mungkin, akan terus menunggunya untuk keluar, menyambut dunia yang damai dan tentu saja, indah.
“Datanglah setiap hari,
Ingin aku mengenalmu lebih jauh,
Aku inginkan kau menjadi temanku di dunia,
Aku ingin mwnikmati indahnya kehidupan dunia,
Bersama seseorang, seorang sahabat.”
Ya, kukatakan ya aku mau menjadi sahabatmu asal satu syarat saja yang harus ia penuhi, keluarlah dan sambut aku, sahabatmu.
Aku pasti datang setiap hari menunggu kau keluar dan nikmatilah dunia yang indah ini. Aku jua ingin mengenalmu lebih jauh. Kau dan aku saling mengenal lebih dekat. Aku sahabatmu. Dan kau pun akan jadi sahabatku.
Tapi tak mungkin aku akan bisa bersahabat dengan orang asing yang tak mau menampakan dirinya di hadapan dunia. Itulah kau, yang menyembunyikan diri dari dunia. Maka aku mohon kepadamu untuk segera keluar, jangan membuat aku bosan karena terus-terusan menunggumu tanpa tahu kau akan keluar atau tetap bersembunyi.
Aku masih setia menunggumu. Aku akan terus begini, menunggu sampai kau keluar dan datang padaku. Aku telah menerimamu sebagai bagian dari hidupku, kau sahabatku.
Dan tak mungkin kau bnisa menikmati indahnya dunia uini bila kau teru-menerus bersembunyi. Maka permintaanku untuk kesekian kalinya, untuk entah sampai kapan aku harus menunggu dan berharap kau, keluarlah. Keluarlah, jika kau benar-benar mau menjadi sahabatku, keluarlah jika kau benar-benar ingin mengenalku lebih jauh. Keluarlah dari tempat kau bersembunyi jika, kau benar ingin menikmati indanya dunia.
“Aku, ingin tahu kau siapa,
Telah lama aku berada di dunia,
Sendiri dan kesepian,
Tak ada tempat bagiku untuk mengungkapkan perasaan kesepian ini
Hingga kau datang.”
Siap aku? Seharusnya aku yang bertanya. Seharusnya kau telah menjawabku dari dulu. Seharusnya kau yang memberitahuku kau siapa. Kau begitu asing. Seharusnya kau memberitahuku, siapa kau? Lalu mengapa kau bertanya, aku ini siapa. Sementara kau belum memberitahuku siapa kau.
Aku ingin terus bertanya kepadamu. Aku ingin terus menanyaimu, siapa kau. Manusiakah? Hantukah? Atau, kau ini makhluk apa?
Segalanya ingin aku tanyakan saat kau keluar dari tempat kau bersembunyi.
“Janganlah takut,
Aku sama sepertimu,
Aku manusia, manusia biasa,
Kau bagiku adalah orang yang dijanjikan kepadaku
Untuk datang menjadi sahabatku,
Datang, senagai orang yang dijanjikan.”
Apa yang kau pikirkan? Apa ada ‘orang yang dijanjikan’ seperti yang kau katakan itu? Apa aku adalah orang yang kau janjikan itu? Apa kau membual?
Kali ini aku, aku muak denganmu. Kali ini aku sudah tak percaya lagi padamu, orang yang ada di balik tembok. Kali aku takkan peduli padamu lagi.
Baiklah aku akan meninggalkanmu. Aku akan pergi, sementara kau tetap dalam keadaanmu itu. Sementara kau tak mau keluar dari sana, dan menerimaku menjadi sahabatmu.
Aku akan pergi, kembali kepada kehidupanku yang normal. Tanpa dirimu, tanpa kau yang aku tunggui dan tak pernah hadir untukku secara nyata.
Aku akan pergi.
Dengan segudang pertanyaan, Kau Siapa?

Senin, 22 Juli 2013

#Cerpen: Putih

Aku punya seorang teman yang sangat akrab sekali denganku. Kami seumuran dan banyak orang yang menyangka kami berdua adalah sepasang saudara kembar. Tidak terlalu mirip dalam hal wajah tetapi ada begitu banyak kesamaan fisik diantara kami berdua. Tidak heran karena apa yang dia suka aku pasti suka. Yang tidak kami suka pun sama juga. Aku tahu bahwa kami tak begitu suka olahraga. Baju yang kami punya pun tak akan berbeda. T-shirt dan jaket maupun jeans sebisa mungkin sama. Gaya rambut kami pun sama. Ketika salah satu dari kami bergaya spike maka, yang lain ikut-ikutan. Dan begitu pun makanan serta minuman favoit kami. Aku suka cendol dia pun juga. Dia suka martabak manis, aku pun begitu.
Semua itu terjadi tak lain karena keluarga kami sudah dekat satu sama lain. Tetapi aku menganggapnya sebagai kakak kandungku. Kami selalu bermain bersama, berangkat dan pulang sekolah bersama, dan kami berdua selalu duduk sebangku. Kuliah pun kami bersama. Ya, kami menempuh pendidikan di jurusan yang sama. Maka, lengkaplah kekembaran kami ini. Aku berpikir bahwa aku ada untuknya dan dia ada hanya untukku. Terlalu obsesif, pikirku.
Tetapi belakangan ini menurutku sikapnya menjadi semakin aneh dan mengherankan. Apa sebab? Ah, dia semakin menjadi orang yang beraliran "putih". Meskipun iya aku juga senang dengan warna itu tetapi, saat ini kegemarannya dengan segala hal yang berwarna putih semakin menjadi. Baju dan celana berwarna putih atau setidaknya mendekati itu, lalu kaos kaki lalu sepatu. Gadget pun tak ketinggalan. Dompet. Jam tangan. Tas punggung pun. Aduh jaket juga. Pernah suatu saat aku berkata padanya: "Kenapa kamu ini? Segalanya serba putih. Kau mau mati secepatnya ya?" Tanyaku dengan nada bercanda. Tetapi jawaban yang ia lontarkan tak main-main sungguh.
Ia hanya diam. Memasang mimik muka serius dan pucat. Seingatku, seseorang yang bisa membentuk mimik muka seperti itu hanyalah Robert Patinson ketika ia berperan sebagai Edward Cullen, seorang vampir di film Twilight awal. Dia serius dan itu hanya akan membuatku takut dan khawatir membuatku menyesal. Aku menyesal sekarang.
Menit berikutnya dia berkata lirih: "Ketika aku mati memang yang akan kukenakan adalah kain kafan berwarna putih." Itu saja. Dan jujur, perkataannya membuatku bergidik dan bulu kudukku benar-benar berdiri sekarang. Dia lalu berdiri dan pergi. Aku hanya duduk saja diam sampai hanya rambut hitamnya saja yang terakhir kali kulihat ketika dia berbelok di gang antara gedung perpustakaan dan aula.

Sabtu, 29 Desember 2012

Kucing Kami Mati

27 Desember 2012

Adik-adik perempuanku yang berumur 10 dan 7 tahun punya masing-masing satu kucing akuan yang mereka anggap sebagai binatang peliharaan masing-masing meskipun yang memberi makan kucing-kucing adalah ibu. Anak-anak kucing tersebut dilahirkan empat bulan lalu dari seekor kucing betina berbulu putih entah-punya-siapa yang sering datang ke rumah. Anak kucing berbulu abu-abu diaku oleh adik perempuanku yang pertama sementara si bungsu mengakui anak kucing berbulu putih sebagai miliknya. Dua ekor kucing saudaranya mati beberapa hari setelah dilahirkan. Sebelum ini si kucing betina pernah melahirkan empat ekor anak kucing yang semuanya dimakan olehnya.

Tidak di duga anak-anak kucing tersebut tumbuh tidak sehat. Terakhir kali terlihat bagai tulang berselaput kulit dan tanpa daging. Mereka tidak sehat. Kalau menurut ibuku sih, induk mereka sering membawakan tikus mati kepada kedua anaknya. Diketahui bahwa tetangga depan rumah kami senang memasang racun tikus di rumahnya supaya bisa membunuh tikus-tikus yang berkeliaran di rumahnya. Terbukti selama beberapa hari ini selalu tercium bau bangkai tikus atau mungkin kucing di sekitar rumahnya. Rupanya sang induk tikus sering mampir ke tetangga kami itu dan membawa bangkai-bangkai tikus beracun kepada kedua anak. Bisa dipastikan bahwa anak-anak kucing peliharaan adik-adikku sakit karena racun tikus tetangga.

Sempat anak-anak kucing itu hilang dari rumah selama dua malam dan kemudian datang anak-anak kucing lain yang bukan saudara dari kucing di rumah kami. Kucing-kucing yang bulunya berwarna kuning, hitam dan abu-abu lain datang ke rumah kami. Mungkin, kalau mereka manusia mereka sepertinya membawa kabar duka kepada kami sekeluarga kalau kucing-kucing kami berada dalam bahaya. Entahlah, yang jelas di malam berikutnya kucing hitam diantara ketiga kucing itu ditemukan terkapar tak berdaya di halaman rumah. Sekarat. Kucing hitam itu sekarat. Sementara itu, sang induk kucing sudah beberapa lama jarang datang ke rumah. Begitupun anak-anaknya.

Beberapa malam berikutnya berlalu dan suatu pagi saat matahari benar-benar bersinar cerah adiku menemukan kucing putih akuan si bungsu di tumpukan genting baru di halaman rumah tetangga sebelah kanan kami.

Kucing tersebut terkapar tak berdaya, hampir mati, dan adiku itu mengira bahwa kucing itu telah mati. Jadi, dengan polosnya, ia membawa dan meninggalkan kucing itu di halaman rumah kami dekat pintu dapur. Aku yang menemukannya siang hari serta merta berniat menguburkannya dan ketika aku hendak memasukkannya ke dalam lubag, kucing itu bersuara matanya terbuka. Oh, Tuhan. Aku bawa ke teras depan rumah dan memberinya air untuk minum. Kuteteskan dengan telunjukku ke mulutnya yang telah rapat itu. Diberikan pula susu kentak manis supaya dia makan. Kasihan.

Semalaman kucing itu ditaruh dudalam kardus dengan diberikan kain supaya hangat. Kubawa ke kamarku karena sepertinya kucing berbulu putih ini butuh teman. Kucing kami senang tidur bersama manusia, itu kebiasaannya. Dan sepertinya semalaman kucing ini bersuara, eongannta sangat keras.Kupikir ia ingin ditemani induknya dan minum susu induknya.

Keesokan paginya kucing ini dibawa ke ruang tengah dan tak berapa lama kucing itu pun mati. Dan sorenya baru dikuburkan oleh ayah kami, di halaman belakang rumah. Hujan terus mengguyur semalaman megiringi kepergian kucing kami.

Rabu, 05 September 2012

#Cerpen: Menunggu

Menunggu Perjalanan yang melelahkan. Dan lumayan jauh. Antara kampus dan rumah kost. Bolak-balik. Karena jadwal yang tidak teratur. Terlalu banyak jadwal yang kosong. Dan aku berjalan kaki. Sedang panas terik. Aku menderita. Flu berat. Dan jalanan yang berdebu. Ditambah polusi dari asap knalpot. Keringatku mengucur deras. Dan betapa beruntungnya aku, mendapat kesegaran di ruang ATM yang ber-AC. Ke ATM lagi untuk mengisi pulsa dan setelahnya kuputuskan untuk duduk-duduk di depan bangunan ATM center barang sejenak. Langsung ke kampus? Sempat terpikir untuk segera berangkat tetapi jam segini teman-temanku pasti juga belum akan mau menuju kampus. Jadi kupikir lebih baik menunggu di sini sebentar. Lagipula mereka pasti akan lewat sini. Mereka pasti akan lebih memilih untuk telat masuk kelas, tipikal orang Indonesia. Jadi, salahku sendiri sebenarnya mengapa harus panas-panasan sekarang: terlalu rajin ngampus. Terlalu naif untuk mengatakan bahwa diriku adalah orang yang terlalu rajin. Seperti akan mendapatkan penghargaan saja aku ini. Nyamannya duduk di tempat yang terlindung dari terik matahari. Kupasang headset di telingaku. Kucolokan audio jack 3.5 mm ke ponselku. Lalu tekan tombol play. Serta-merta alunan lagu-lagu berbahasa Inggris membahana di telingaku, lagu-lagu favoritku. Koleksiku yang sudah mulai usang karena terlalu sering ku dengarkan. Tetapi walau bagaimanapun, mendengarkan musik memang bisa menusir rasa bosan dan jenuh. Ada seorang laki-laki yang duduk di dekatku. Sepertinya dia juga mahasiswa. Aku sudah melihatnya duduk di tempatnya sekarang. Dia sudah duduk di sana lebih lama daripada aku. Angkot-angkot ngetem di depan ATM center ini. Tanpa penumpang. Dan para supirnya tentu saja beristirahat. Pemandangan yang biasa terlihat siang hari begini. "Lagi nunggu seseorang?" laki-laki itu berbicara. Pada siapa? Kepadaku? Memang dia yang bertanya dan yang ditanya itu adalah aku. Dia bahkan telah menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku. Lalu aku menoleh ke arah laki-laki itu duduk, di sebelah kananku. Ku buka earphone-ku. "Enggak, lagi istirahat aja." Jawabku agak kurang peduli. Walaupun aku tahu kalau dia memang ingin mengobrol dengan seseorang dan hanya ada aku di dekatnya yang bisa dia ajak ngobrol. Ku menoleh ke depan lagi, kembali asik dengan lagu-lagu berbahasa Inggris yang sedang aku dengarkan sedari tadi. "Kalau saya sih emang lagi nunggu temen." Kembali ku menoleh kearahnya. Berusaha memperhatikannya sekarang. Kupegangi earphone kananku, supaya aku bisa mendengarkannya. Aku berusaha untuk menyimak apa yang akan dia katakan kepadaku. Aku akan mendengarkannya. Itu janjiku kepada diriku sendiri. "Saya sudah cukup lama nunggu di sini. Sekitar setengah jamlah." Aku tersenyum kepada laki-laki yang tak kutahu namanya itu. Dan aku hanya berkata, "oh" sebagai jawaban atas apa yang dia katakan. Maafkan aku. Senyumku yang sedikit tersimpul sebenarnya kutujukan sebagai sekadar permohonan maaf. Tanpa kata yang terucap dan tanpa ekspresi yang berlebihan. Tapi harus apa lagi, harus bagaimana lagi. Mau apa lagi, tak ada hal lain yang bisa kulakukan. Karena aku bukan orang yang ahli mengobrol dengan siapapun. Mengobrol dengan orang yang sudah agak lama kukenal pun aku masih canggung apalagi dengan orang asing, orang yang baru di kenal di tempat seperti ini pula. Tetapi ada satu hal yang bisa kubanggakan dari apa yang ada dalam diriku adalah kemampuan mendengarku yang sangat baik. Aku pendengar yang baik, yeah. Batinku berteriak. Jadi apa yang akan aku lakukan sekarang adalah mendengarkannya baik-baik. Jeda sejenak. Hening. Aku diam dan dia tak berbicara. Ah, dia pasti menunggu aku yang sedang berpikir sendiri ini mengatakan sesuatu. Kenyataannya aku malah menjadi sibuk dengan playlist lagu-lagu berbahasa Inggris di telingaku melalui earphone. Apa aku baru saja telah melanggar janji yang telah kubuat sendiri tadi? "Dari fakultas mana?" Tanyanya lagi, membuatku kaget dan membuyarkan lamunanku. Memecah konsentrasi pendengaranku akan playlist bahasa Inggrisku. "Sastra," kukatakan nama fakultasku dengan sedikit canggung. Aku kaget sebenarnya. "Satra apa?" Tanyanya menambahkan. "Saya?" Jawabku masih merasa kaget, "Sastra Jerman," imbuhku. Kata-kata terakhir yang aku keluarkan dari mulutku sedikit teredam karena aku berusaha menelan ludah dari dalam mulutku ke dalam tenggorokanku. Aku haus. Kuharap ia bisa mendengar dengan jelas apa jawabku. Semoga saja. "Saya juga dari sastra." Dia mengatakan sesuatu, berarti dia mendengarku. Untunglah, berarti suaraku tak benar-benar hilang. Syukurlah. "Sastra Inggris," tambahnya lagi. Mengenai hal yang terakhir itu, apakah dia menjawab sebuah pertanyaan dariku? Tidak. Aku malah tak bertanya apapun. Apa yang ia katakan itu bagiku hanyalah sebuah penyataan spontan. Menjadi sebuah keuntungan bagiku mengetahui detail tentang orang ini secara lebih spesifik tanpa perlu kutanyakan. Maaf sebelumnya, karena aku bukan orang yang berbakat mengobrol dengan orang asing terutama sekali dengan yang baru saja dikenal. Aku bukan orang yang supel, mudah berkenalan dengan orang asing dan dengan antusiaisme tinggi mengobrol dengannya. Peringatan bagi anda yang belum mengenal kepribadian saya: silahkan mulailah sebuah percakapan dengan saya dan mengakhirinya dari pihak anda, secara sepihak pun tak mengapa. Aturan main ini berlaku juga untuk laki-laki yang sedang mengobrol denganku sekarang ini. "Semester berapa sekarang?" tanyanya lagi. "Saya? Baru semester satu." Jawabku agak datar. "Emang kamu lulusan tahun berapa?" "Dua ribu sepuluh," jawabku lancar. "Berarti masih baru yah?" Yeah, tentu saja. Aku memang angkatan fresh. Segera setelah lulus SMA langsung masuk kuliah, lewat jalur SNMPTN. Tak enak juga memang terjebak dalam situasi seperti ini. Terperangkap dalam percakapan dengan orang yang sama sekali asing. Aku serasa menjadi seorang narasumber yang diwawancarai dan hasil dari wawancaranya itu akan dimuat di sebuah majalah beroplah besar. Sepertinya aku sekarang harus mulai bertanya balik: aku harus menanyainya. Supaya percakapan ini menjadi cair dan agar aku tak merasa canggung mengobrol dengan orang seasing dirinya. Maka, kali ini kuberanikan balik bertanya. "Kamu semester berapa memangnya?" Tidak sopan menunjuk-nunjuk orang asing, tapi tetap kulakukan juga. "Saya semester lima." Kuperhatikan mulutnya komat-kamit dan tanganya digerak-gerakan seperti sednag menghitung. "Saya berarti angkatan dua ribu delapan." Senyuman tersimpul dariku lagi-lagi kugunakan sebagai isayarat bahwa aku betul-betul mendengarkan apa yang dikatakannya dan aku mengerti. Tipe jawaban yang sudah menjadi sesuatu yang monoton: membosankan. "Ternyata. Membosankan juga yah menunggu seperti ini." Katanya. Kuanggap perkataannya adalah sebuah curahan isi hatinya. Isi hatiku juga. Meskipun tak ada seorangpun yang aku tunggui. "Iya, menunggu memang membosankan." Kuiyakan pernyataannya. Aku setuju. Sangat setuju sekali. Seratus persen memang benar apa yang dia katakan itu. Karena menunggu memang sangat membosankan. Aku paling tidak suka menunggu apapun atau siapapun. Kemudian dia mengeluarkan handphone -nya dari dalam saku celana jeansnya. "Nah, teman saya sms. Katanya dia masih di jalan." Aku menoleh lagi kearahnya. Mendengarkannya lagi. "Padahal saya sudah menunggu di sini, cukup lama sekali. Ternyata teman saya ini masih di jalan. Dia cuma mau pinjem buku ini." Katanya lagi, sambil menunjukkan sebuah buku cetak berukuran buku tulis biasa. Buku yang sejak awal pertama tadi aku melihatnya. Kuingat buku yang bersampul cokelat itu berjudul 'Sejarah Kebudayaan Indonesia.' Dari judulnya seharusnya aku sudah bisa menduga siapa dia, dan di semester berapa sekarang dia belajar semester ini. Tetapi apa yang dikatakannya itu sesungguhnya tak menarik bagiku. Barulah apa yang dikatakannya kemudian yang membangkitkan ketertarikanku terhadap semua hal yang dibicarakannya denganku. "Pernah nonton Hachinko?" Dengan spontan kujawab "belum, belum pernah." "Film Jepang?" Karena aku begitu tertariknya dengan pertanyaannya maka, secara spontan aku malah balik bertanya. Sangat mudah ditebak dari judulnya bahwa film yang dia bicarakan itu merupakan film Jepang. Sangat mudah sekali. "Yap, betul." Jawaban pendek meluncur dari bibirnya. Ada jeda lagi diantara percakapan dia dan aku. Kupikir dia sedang menungguku mengatakan sesuatu. Kubayangkan seperti seorang pemancing yang sedang menunggu umpannya dimakan ikan pancinganya. "Ceritanya seperti apa?" Pertanyaan lagi, sebagai jawaban spontan sekali lagi meluncur dari mulutku. "Film itu bercerita tentang anjing yang setia kepada pemiliknya. Pemilik Hachinko adalah seorang profesor yang setiap hari naik kereta api ke universitas di mana ia mengajar dan anjingnya itu selalu tepat waktu mengantar-jemput pemiliknya itu. Selama sepuluh tahun si anjing menunggu sang profesor sampai meninggal tanpa tahu kalau sang profesor telah meninggal. Betapa setianya Hachinko itu." "Hmm, memang harus tabah yah kalau menunggu seseorang itu," pikirku. Dia seharusnya tak mendengar apa yang aku pikirkan. Dia seharusnya tak menjawab pikiranku ini. "Nah, kebayang kan? Nunggu satu setengah jam aja kayak gini, gimana nunggu sepuluh tahun? Di stasiun lagi!" Mengangguk pelan, lagi-lagi hanya hal itu yang bisa aku lakukan sebagai jawaban dan tanda persetujuan. "Saya sih sebenarnya lebih suka baca daripada nonton film. Saya juga lebih seneng nonton film yang diadaptasi dari buku." Itulah pendapatku mengenai film yang laki-laki ini ceritakan. "Film ini juga diangkat dari buku." Katanya tegas. "Oh, yah?" Kataku tak percaya, karena tak pernah sekalipun aku melihat buku yang berjudul 'Hachinko' di toko buku ataupun perpustakaan yang menjadi tempat favoritku menghabiskan waktu. "Iyah. Terus diangkat ke layar lebar di Jepang tapi nggak booming. Terus dibuat versi remake Hollywood Amerika yang bikin film ini booming." Hanya bisa tersenyum diriku, lagi. Aku mulai memproses setiap informasi yang kudapatkan dari obrolan dengan orang asing ini: menunggu seseorang dan tentang Hachinko. Jeda sejenak yang muncul kembali. Aku diam dan dia diam. Aku sedang berpikir mungkin dia juga. Sepertinya dia memang harus selalu memulai percakapan dan aku harus selalu mendengarkan. Tapi aku bersedia kalau memang harus selalu mendengarkan. "Masih lama ternyata, teman saya itu. Dasar cewek, mungkin saat dia bilang lagi di jalan dia malah lagi berdandan di kosannya di jalan Sayang." Aku dengar. Tapi aku juga asik dengan hape di tangan dan sesekali memperhatikan angkot-angkot yang berhenti dan melaju serta motor dan mobil yang berlalu lalang. Dan orang yang mengobrol denganku ini kuabaikan sejenak. Maaf. Secara tiba-tiba ia berdiri. Aku segera mengalihkan perhatian ke arahnya. Apa dia akan segera pergi? Ataukah teman yang 'selama' ini ditungguinya telah datang? Ternyata teman wanitanya telah datang. Mereka berdua berdiri, dan aku masih terus duduk. Aku diam-diam memperhatikan mereka. Aku menguping pembicaraan mereka. "Sory yah, gue baru dateng. Mana bukunya?" "Ini bukunya." Laki-laki yang menjadi teman mengobrolku tadi menyerahkan buku yang selama ia menunggu kepada seorang perempuan yang ia tunggu. Buku yang aku sadari menunjukkan identitasnya. "Lu kok bisa sih dapet 'A' di matkul kayak gini? Gue paling anti ama matkul yang materi hapalam kayak ini. Gimana sih? Ajarin gue dong!" "Gampang aja sih sebetulnya." "Terus gue paling susah kalau pas tes disuruh nulis pendapat ato argumen. Ajarain gue yah!" "Gak susah kok. Tinggal tulis pendapat sendiri ajah. Apa susahnya coba?" "Gitu yah. Yaudahlah. Makasih udah mau minjemin. Duluan yah. Buru-buru nih. Dah!" Lalu wanita itu pergi. Sekarang teman mengobrolku itu melihat ke arahku. Dia pamit rupanya. Aku mengiyakan kepergiaannya dengan senyuman yang sedikit dilebarkan. Dia berpaling dan pergi. Aku kemudian kembali memperhatikan angkot-angkot yang mengantri. Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang, siapa tahu ada teman sekelasku yang dengan mereka aku bisa pergi bersama ke kelasku di jam selanjutnya.