Karena saya belajar tentang Eropa (Jerman khususnya) maka mau tak mau saya tak bisa tutup mata bahwa LGBT ialah isu yang hangat dibicarakan.
Dan oleh karena itu, pun tak bisa mengabaikan bahwa "mereka" juga ada di Indonesia, hanya saja sangat tertutup dan menghndari pertentangan.
Sehingga membuat saya menjadi tertarik untuk menulis sebuah cerita fiktif yang mengangkat tema yang masih tabu di masyarakat kita ini.
Senin, 24 Maret 2014
#Catatan: Mengangkat Tema Tabu (LGBT)
Jumat, 14 Maret 2014
#Curhat: Saya dan Bahasa dan Kesusastraan
Saya akui telah mengalami kegagalan mempelajari bahasa (dan kesusastraan) asing (Arab dan Jerman) meskipun mengalami kemajuan dalam mempelajari bahasa dan kesusastraan Inggris (secara sukarela, belum terujikan secara formal/itas) dan sedang menyukai bahasa Prancis dengan gemar mendengarkan beberapa lagu dari Belgia. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memusatkan pikiran untuk mempelajari bahasa dan kesusastraan Sunda dan Melayu/Indonesia (secara sukarela) dengan menulis puisi dan cerita pendek (serta roman dan novel) dan akan mencoba untuk mengirimkannya ke media masa dan penerbit lokal dan nasional atau menerbitkannya sendiri.
Langkah yang saya ambil ini akan sesuai dengan perkataan Dewi Lestari dalam novelnya yang berjudul "Perahu Kertas" melalui tokoh Keenan seperti berikut ini dengan sedikit perubahan: "Berputar menjadi sesuatu yang lain yang bukan diri sendiri untuk menjadi sesuatu yang benar-benar adalah diri yang sesungguhnya."
Minggu, 15 September 2013
#Esai Media Sosial sebagai Karya Sastra
Apa yang ditulis di sini [sosmed] harus dipahami seperti memahami sebuah karya sastra [cerpen, puisi, monolog], "aku" bukanlah si penulis.
Mengapa harus dipandang demikian?
Saya menulis status ini dan itu sebagai cara saya menghidupkan salah satu atau beberapa "alter ego" yang saya miliki. Karena ketika menuliskannya ada beberapa hal yang dipoles, diperindah: terutama redaksi kalimatnya.
Kamis, 18 Juli 2013
Kelayakan Karya Sastra
Karya Sastra tidak layak dibuat karena adanya tekanan oleh pihak tertentu dan karena keinginan pribadi penguasa di zaman itu. Karya Sastra layaknya dibuat sebagai reaksi terhadap keadaan masyarakat saat karya tersebut dibuat dan membawa pengaruh pada zamannya.