Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Maret 2014

#CurahanHati: Berilah Pria Ini Pelajaran

Sekiranya pria yang sedang akan menamatkan -atau meninggalkan- pendidikan bahasa dan sastra asing ini diberi lagi kesempatan mendalami fisika seperti bertahun-tahun sebelumnya. Atau harusnya ia memperoleh pengalaman bagaimana mengolah tanah yang baik, memegang cangkul dengan benar, memberi makan ternak, dan menghasilkan sesuatu yang bisa dimakan semua orang di rumahnya.

Jumat, 14 Maret 2014

#Curhat: Saya dan Bahasa dan Kesusastraan

Saya akui telah mengalami kegagalan mempelajari bahasa (dan kesusastraan) asing (Arab dan Jerman) meskipun mengalami kemajuan dalam mempelajari bahasa dan kesusastraan Inggris (secara sukarela, belum terujikan secara formal/itas) dan sedang menyukai bahasa Prancis dengan gemar mendengarkan beberapa lagu dari Belgia. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memusatkan pikiran untuk mempelajari bahasa dan kesusastraan Sunda dan Melayu/Indonesia (secara sukarela) dengan menulis puisi dan cerita pendek (serta roman dan novel) dan akan mencoba untuk mengirimkannya ke media masa dan penerbit lokal dan nasional atau menerbitkannya sendiri.
Langkah yang saya ambil ini akan sesuai dengan perkataan Dewi Lestari dalam novelnya yang berjudul "Perahu Kertas" melalui tokoh Keenan seperti berikut ini dengan sedikit perubahan: "Berputar menjadi sesuatu yang lain yang bukan diri sendiri untuk menjadi sesuatu yang benar-benar adalah diri yang sesungguhnya."

Jumat, 24 Januari 2014

Belajar Bahasa Asing: Malu Kalau Tak Jago Dulu Bahasa Ibu

Sebagai seorang mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Jerman, saya tidak malu apabila kemampuan bahasa asing itu di bawah standar.
Saya justru sangat malu apabila tak bisa menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesai untuk sebuah istilah asing yang sedang dijelaskan dosen.
Ketidaktahuan istilah padanan itu justru menjadi bukti kegagalan saya menjadi orang "pemilik rumah" bernama Indonesia.
Seperti kata Anggun: "Ketika saya bercermin, yang saya lihat tuh bukan siapa-siapa lagi tapi orang Indonesia." Saya sendiri selalu melihat seseorang yang lebih tua dari pada Indonesia ada dalam diri saya: Ki Sunda.
Sehingga, ketika ada sebuah istilah asing dilontarkan ke depan muka saya, yang pertama kali dicari adalah padanan istilah bahasa Sunda-nya apa baru kemudian mencari istilah bahasa Indonesia-nya.
Misalnya adik saya yang masih duduk di kelas 5 SD bertanya tentang arti sebuah kata bahasa Inggris, saya akan terlebih dahulu beritahukan padanannya dalam bahasa Sunda.
Karena yang ingin saya tekankan adalah sebelum mempelajari bahasa asing, pahami dulu bahasa ibu (dan bahasa nasional) supaya tidak terjadi yang namanya kegalauan bahasa. Bahasa ibu itu berguna menjadi fondasi landasan kerangka berpikir utama.