Tampilkan postingan dengan label Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

Tidak ada hal khusus untuk dibagikan hari Ini

Sesungguhnya saya tak ada rencana menulis hal yang khusus di blog ini hari ini. Saya hanya sedang tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Sungguh selama lima bulan ini saya menganggur. Tidak ada pemasukan sama sekali kecuali uang jajan yang tidak menentu dari orang tua. Mereka sudah sering menyuruh saya mencari pekerjaan. Tetapi saya mempunyai halangan. Ada hal yang tak bisa saya ungkapkan. Hal itu sungguh sulit dikatakan. ini haruskah menjadi rahasia? Tak bisa saya beri tahukan. Jadi bagaimana? Jadikan ini rahasia saja. Tetapi sungguh saya ingin jujur bahwa ada rasa sakit di hati saya ini. Rasa sakit yang mendalam dan telah juga menjalar ke seluruh syaraf di tubuh saya. Mungkin otak dan pikiran saya telah teracuni juga. Ah, tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Tunggu sampai tiba-tiba saya tak bisa mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada diri saya sendiri. Ketika waktu itu tiba, mungkin alangkah baiknya kalau saya sampai benar-benar lupa segala rasa sakit ini. Terlalu banyak mengeluh akhirnya saya ini. Maafkan saya kalau begitu. Keluhan ini seharusnya saya langsung sampaikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bukannya saya tumpahkan di sini. Semoga dosa saya ini diampuni. Amin. Lalu bagaimana kemudian? Karena hal ini bukan hal khusus maka apa lagi yang saya bisa tuliskan? Lain kali saja saya ceritakan pada saat hati dan pikiran saya sudah tenang. Dan sampai jumpa di kesempatan berikutnya. Pada saat nanti kita bertemu saya harap saya punya hal khusus untuk dibagikan serta bisa bermanfaat bagi semua orang. Amin Doakan saya.

Minggu, 27 Juli 2014

Mudik Asyik Mudik Sabar

Mudik kali ini adalah mudik yang paling berat untuk saya. Mengapa? Karena tahun ini masa kontrakan kostan saya habis jadi otomatis saya harus pindah. Jadi, selain harus bawa diri saya pun harus bawa-bawa barang-barang: buku sekardus, baju celana dan pakaian lainnya dua tas punggung, lalu ada sekardus magic jar. Maaf saya tidak bawa sekarung beras dan sekardus mie instan atau sebongkah berlian. Saya masih kuliah, kok, belum bekerja. Hehehe.

Nah, untungnya jarak antara kostan dan jalan raya gak jauh-jauh amat. Deket kok. Tapi nungguin angkutan ke kampung halaman ini yang butuh perjuangan. Lagi berat? Lagi puasa terus matahari panas terik. Terus ini yang biasanya jadi masalah: kalau musim mudik begini biasanya bus-bus dan elf-elf (minibus) pada penuh. Yaiyalah semua yang merantau pada pulang. Masalah satu lagi yaitu jarang angkutan yang tujuannya ke kampung halaman saya. Daerahnya kurang terkenal sih: Wado. Lebih banyak angkutan jurusan Cikijing atau Cirebon yang lewat. Lagi pula gak ada tuh yang langsung ke Wado, saya harus naik yang jurusannya Bandung - Bantarujeg terus turun di terminal atau di pasar Wado. Belum sampai nih ke rumah karena harus naik ojeg dulu sekali. Gak ada angkot apa ya? Bawaan eike banyak banget nih! :3

Nah, saya nunggu dari jam sembilan pagi. Banyak sih yang lewat. Iya angkot sama bus yang bukan jurusan saya. Nunggu tuh sampai dua jam lebih baru ada tuh yang ditunggu-tunggu. Sayang tapinya, penuh. Mana mau berdiri. Nunggu bentaran lagi lah. Alhamdulillah, yang ini cocok di hati. Kosong. Hihihi.

Naik deh, bismillah. Asyik. Tapi sayangnya harus di belakang banget. Waduh! Susah keluar dong nantinya? Gak apa-apa deh, nikmatin aja. :D

Biar gak bosen dengerin musik ah di smartphone kesayangan ane, si putih mulus Huawei/Smartfren Ascend w1 Windows Phone. Lumayan kan. Oh ya, jaringan Evdo Rev. B-nya Smartfren kenceng banget loh. Sambil facebook-an sama twitter-an juga dong pastinya.

Jalan terus jalan nih tunggangan ane gan. Naik apaan? Oh, ini elf jadi larinya cepet abis. Gak kayak bus gedean yang jalannya lambat-lambat. Tapi ya ada tapinya, musim mudik kek gini ada macetnya juga bro. Jalanan macet. Panas lagi. Sabar lagi.

Singkat cerita udah nyampe Sumedang nih. Masih jauhlah dari rumah. Ini kirai-kira baru setengah perjalanan. Duh tapi dari tadi banyak yang nawarin tahu sama minuman loh. Gratis? Gak kali. :p Hahay, inilah Sumedang Kota Tahu, jadi kalau naik bus atau minibus banyak pedagang yang nawarin tahu, gak sama tempe loh. Lapeeer!

Eits, jangan sampai bocor ya! Udah gede! Masa umur dua puluh satu tahun gak kuat puasa? Malu-maluin. Tapi tuh di dalem ada cewek beli tahu terus dimakan. Gak puasa tuh cewek? Gak. Ih, itu sih gak terlalu parah. Ada juga loh yang di sisi jalan, gue lihat dari dalem elf yah, yang sengaja berhentiin motornya buat minum sebotol akua. Mau! Jangan! Sabar gan! Lanjutkan perjuangan!

Singkat cerita nih akhirnya sampe di terminal Wado. Biasa kalau ada artis yang turun dari elf suka diburu tukang ojek. Yaaah! Hahay! Yaudah nih naek ojek. Tapi sebelum itu harus keluarin bingkisan dulu dari bagasi elf. Maklum kan tadi udah diceritain kalau eike bawa barang belanjaan, eh maksudnya barang-barang aja (buku, baju sama magic jar).

Duh leganya kena angin sepoy-sepoy di atas ojek.

Nah, sampe juga akhirnya di sekolahan SD. Turun deh di situ. Bayar ojek empat ribu. Kesian tukang ojek bawain barang. Tapi si mang ojek minta lebih. Syet dah! Biasanya juga tiga rebu doang. Syukur dikasih lebih seribu. Tolong Baim ya Allah!

Udah ah, saya kabur aja! Gak bisa lari! Gak bisa lari! Kasihani saya! Bawa barang banyak amat!

Dah ah! Dah sampe rumah! Ane mau ganti baju terus mandi! Kebalik yah? Yaudahlah! :)

Jumat, 14 Maret 2014

#Curhat: Saya dan Bahasa dan Kesusastraan

Saya akui telah mengalami kegagalan mempelajari bahasa (dan kesusastraan) asing (Arab dan Jerman) meskipun mengalami kemajuan dalam mempelajari bahasa dan kesusastraan Inggris (secara sukarela, belum terujikan secara formal/itas) dan sedang menyukai bahasa Prancis dengan gemar mendengarkan beberapa lagu dari Belgia. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memusatkan pikiran untuk mempelajari bahasa dan kesusastraan Sunda dan Melayu/Indonesia (secara sukarela) dengan menulis puisi dan cerita pendek (serta roman dan novel) dan akan mencoba untuk mengirimkannya ke media masa dan penerbit lokal dan nasional atau menerbitkannya sendiri.
Langkah yang saya ambil ini akan sesuai dengan perkataan Dewi Lestari dalam novelnya yang berjudul "Perahu Kertas" melalui tokoh Keenan seperti berikut ini dengan sedikit perubahan: "Berputar menjadi sesuatu yang lain yang bukan diri sendiri untuk menjadi sesuatu yang benar-benar adalah diri yang sesungguhnya."

Selasa, 04 Maret 2014

Curhat: Tentang SMS kepada Dosen Pembimbing

Apakah mahasiswa dilarang meminta jadwal bimbingan seminggu sekali supaya teratur dan skripsinya cepat selesai melalui sms kepada dosennya? Apakah hal itu menunjukkan ketidaksopanan? Mengapa? Lalu bagaimana? Apa yang harus dilakukan? Tolonglah! Mohon sekali? Apakah ibu dosen pembimbing tidak senang kepada mahasiswa yang menghubunginya untuk meminta bimbingan? Mohon segera mengkonfirmasi! Saya merasa tidak tenang terus menunggu jawaban. Saya ingin segera menyelesaikan skripsi dan studi saya. Saya iri kepada teman-teman saya yang sudah lulus mendahului saya.

Selasa, 14 Januari 2014

Halo Perkenalkan Nama Saya Abdul Toyib Sodikin

I
Halo semuanya! :D Perkenalkan. Nama saya Abdul Toyib Sodikin. Nama saya diambil dari tiga kata dalam bahasa Arab. Abdul artinya hamba. Toyib artinya baik. Sedangkan Sodikin artinya dapat dipercaya. Jadi arti nama saya adalah: "hamba Allah yang baik dan dapat dipercaya." :v
Saya tak bermaksud narsis loh! Nama saya ini adalah pemberian orang-orang sekampung: keluarga besar dan tetangga saya! Jangan kaget. Saya dan seluruh keluarga besar saya dari pihak ayah memang tinggal berkumpul relatif saling berdekatan. Dan karena tempat tinggal saya di perkampungan maka hubungan antar tetangga sangatlah erat. Sampai-sampai nama saya pun adalah hasil pemikiran semua orang sekampung. Jadi, nama saya adalah nama yang juga merupakan doa yang baik dari semua orang.
Secara gramatik sebenarnya nama saya "menyimpang". Mengapa? Karena hukum bacaan "alif-lam" di antara kata Abdul dan Toyib sehingga seharusnya dibaca Abdut-Toyib. Tetapi demi untuk penyederhanaan pengucapan maka nama saya tetap dilafalkan Abdul Toyib Sodikin.

Rabu, 20 November 2013

#Catatan: Mereka Melihat Kesulitan dalam Teks Dolmetschen Saya

Teman-teman di kelas selalu melihat tingkat kesulitan tinggi dalam setiap teks yang akan saya sajikan di mata kuliah Dolmetschen. Padahal saya yakin saya telah membuatnya sesederhana mungkin yang saya bisa. Tidakkah mereka meninggikan kesulitan di dalam diri mereka sendiri untuk menerima tantangan dan meninggikan kompetensi berbahasa Jerman mereka sendiri?

Jumat, 15 November 2013

#Catatan: Pengalaman Menggunakan Perangkat Bergerak (HP dan Tablet)

Tulisan berikut ini merupakan pengalaman tidak menyenangkan yang saya dapatkan selama lima tahun menggunakan perangkat elektronik yaitu handphone (dan tablet). Berikut ini juga merupakan sekilas tentang kecerobohan saya selama menggunakan hape yang menyebabkan saya merasa tidak puas dengan apa yang saya alami. Semoga pengalaman saya ini bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.
Handphone pertama saya adalah LG KG200. Saya beli seken seharga Rp700.000,- pada tanggal 21 Juni 2008 di Cimahi. Uang yang digunakan untuk menebus ponsel tersebut berasal dari uang pembinaan peserta OSN dari pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Alhamdulillah, saya tidak harus meminta uang kepada orang tua hanya untuk sekadar membeli sebuah hape. Kemudian KG200 saya rusak kira-kira pada sekitar akhir tahun 2010. Saya lupa kapan tepatnya. Penyebabnya adalah saya melemparkan hape saya itu ke lantai. Alasannya saya sudah bosan menggunakannya. Saya merasa sangat menyesal telah melakukannya. Akhirnya layar sang hape retak, meskipun masih bisa dinyalakan.
Kemudian tak berselang lama, saya membeli handphone lagi. Kali ini bermerk Sony Ericsson tipe K530I. Seharga Rp500.000,- di BEC Bandung. Alhamdulillah untuk kali ini pun saya membeli menggunakan uang sendiri, dari beasiswa yang saya dapatkan.
Kemudian di bulan Agustus 2011 saya kembali membeli sebuah handphone. Kali ini saya membeli handphone baru Sony Ericsson txt Pro ck13i seharga Rp960.000,- (+ Rp50.000,- kartu microSD kapasitas 2 GB). Hape saya yang lama (SE K530I) masih berfungsi. Txt pro ini sempat masuk ke dalam ember berisi rendaman cucian, yang untungnya tidak sampai tenggelam di dalam airnya. Was-was rasanya. Kemudian karena performanya yang sangat buruk: sering hang, tidak bisa multitasking, tampilan monoton, aplikasi yang didukung sedikit, saya lalu menjualnya dengan harga hanpir setengah dari harga asal: Rp550.000,-. Kartu microSD-nya tidak saya jual karena memang dibeli terpisah. Menyesal juga akhirnya. Tetapi dari uang hasil penjualan itu akhirnya saya membeli lagi handphone Sony Ericsson M1I Aspen. Kali ini saya membeli sebuah smartphone bersistem operasi Windows Mobile.
Penyesalan saya akhirnya tertutupi karena Aspen ini adalah sebuah smartphone: bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, kamera lebih baik, dan fitur lain yang lebih menjanjikan. Tetapi ternyata ketahanannya tak bertahan lama. Tiba-tiba masalah terjadi: Aspen sering restart sendiri dan apabila baterei dipasangkan, handheld menyala sendiri. Alhasil setelah ditanyakan di tempat servis yang bermasalah adalah IC Chargernya. Biaya untuk penggantiannya sekitar Rp200.000,-. Saya tidak sampai mengeluarkan isi dompet untuk memperbaikinya. Jadinya saya abaikan kerusakan yang dialami M1i saya dan malah membeli perangkat ponsel lagi.
Pada tanggal 12 April 2012 saya membeli smartphone Android Samsung Galaxy Young GT-S5360 di Jatos keadaan seken seharga Rp850.000,-. Handphone SE K530i milik saya masih berfungsi meskipun sering terjadi gangguan di layarnya yang tiba-tiba blank berwarna pelangi atau terkadang menjadi merah. Saya juga merasa sedikit kecewa dengan Young saya karena kamera dan performa RAM dan CPU di bawah standar. Di hari pertama kepemilikan Android satu ini terjadi sebuah insiden: karena teman saya iseng menepuk pundak saya, akhirnya sang Young terjatuh ke lantai setinggi ±1,45 m. Jatuh dari ketinggian tersebut membuat isinya tercerai berai (hanya casing luar dan baterei yang terlepas sih, tetapi ini parah sekali). Rusak? Belum, karena sampai sekarang pun Young saya masih bisa berfungsi dengan baik.
Di bulan Juli 2012 saya kemudian membeli sebuah tablet Android X5 keluaran vendor lokal IMO seharga Rp750.00,-. Yang pada bulan Januari 2013 lalu saya jual kembali seharga Rp350.000,-. Alasan saya jual kembali adalah karena produk tersebut sungguh mengecewakan dari performa baterei. Selain itu layarnya sungguh tidak akurat apabila dipakasa digunakan pada saat baterei sedang diisiulang.
Terakhir kalinya, pada bulan Mei 2013 saya membeli Android yang lain lagi. Saya membeli Huawei Ideos U8300 seharga Rp445.000,- dalam kondisi baru di BEC. Murah sekali kan untuk sebuah perangkat Android? Ya, itu karena OS yang terpasang masih versi 2.1 Éclair. Tetapi apa yang saya dapat? Baru saja lima bulan dipakai, U8300 punya saya sering menampilkan gejala yang aneh: layar tak bisa menyala setelah terkunci selama beberapa menit. Menyebalkan, bukan? Lalu apakah saya harus membeli perangkat baru lagi bulan Desember nanti atau di awal tahun 2014? Saya tidak mau lagi membeli perangkat apapun karena saya tidak mau dikecewakan untuk kesekian kalinya. Saya yakin betul bahwa saya sangat berperan terhadap segala kerusakan itu karena saya ceroboh: hampir semua perangkat handphone yang pernah saya pakai sering jatuh dari tempat yang lumayan tinggi: dari atas kursi, lemari, tergelincir dari tangan saya pada saat saya berdiri. Kalaupun nanti saya punya rezeki saya mau membeli sebuah perangkat yang tahan air, debu dan goncangan untuk meminimalisir kerusakan karena keteledoran diri saya pribadi.