Tampilkan postingan dengan label Monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monolog. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

#Monolog: Aku dan Aku, Selalu Aku

Apakah ada cara untuk mengeluarkan semua kegelisahan ini dari pikiran di kepalaku agar kubisa hidup sebagai sesuatu yang baru setiap hari?
Aku merasa gelisah terus setiap hari. Setiap hari merasa galau dan bimbang. Mengharap mau datang menjemput. Atau bersihkan pikiran ini dari masa lalu supaya aku tenang hidup di dunia hari ini.
Aku ingin tahu, apakah ada cara supaya segala kebimbangan ini bisa dibuang dari kepalaku? Apakah bisa aku menjadi sesuatu yang baru lagi dan lepas dari masa lalu? Aku terus bertanya dan tak ada seorang pun yang jawab, dengar pun tidak.
Aku hanya perlu tahu satu itu saja. Kalau tidak, maka aku ingin pergi saja. Supaya tak ada aku yang linglung dan tak tahu apa yang harus dilakukan hari ini dan esok. Supaya aku tak lagi pusing. Supaya ... begitu.

Minggu, 15 September 2013

#Esai Media Sosial sebagai Karya Sastra

Apa yang ditulis di sini [sosmed] harus dipahami seperti memahami sebuah karya sastra [cerpen, puisi, monolog], "aku" bukanlah si penulis.

Mengapa harus dipandang demikian?
Saya menulis status ini dan itu sebagai cara saya menghidupkan salah satu atau beberapa "alter ego" yang saya miliki. Karena ketika menuliskannya ada beberapa hal yang dipoles, diperindah: terutama redaksi kalimatnya.

Minggu, 08 September 2013

#Puisi Monolog Antara Kamu dan Aku

Tak ada lagi cerita kamu dan aku. Takkan ada kunjungan dariku. Tak ada lagi pesan singkat untukmu. Tiada lagi tentangku dan kamu.

Tak ada lagi tiket bioskop yang dibeli untuk berdua. Tak ada lagi kamu yang kutunggu di tangga. Tak ada lagi obrolan antara kita.

Tak akan lagi kunaiki bus itu. Yang mengantarkanku ke tempatmu. Tak akan lagi ada malam sepi sementara kamu disiku.

Kini kusendiri sepi seperti seharusnya. Tiada kamu kuharap lebih baik seperti sebelumnya. Kini kunikmati setiap detik tanpa tepi.

Rabu, 04 September 2013

#Monolog Diam Lembam

Lihatlah Aku!
Di kursi ini duduklah aku.
Padahal kuingin berpindah, kamu harus tahu.
Kuinginkan kursi di ujung sana.
Kuingin pindah ke sana.
Tahukah kamu?
Aku mau tempatmu itu!
Aku mau, duduk di kursimu itu.
Tapi aku diam.
Aku diam, duduk diam di kursi ini.
Aku tak berpindah.
Mengapa begitu?
Tanyakan sekali lagi!
Mengapa kutak berpindah?
Kujawab kali ini.
Tak bisalah kuberpindah, kupikir karena aku lembam
Dorongan dari sana dan dari sini
Atas bawah, depan belakang, kanan kiri
Semuanya nol
Nol semuanya
Jadi aku berdiam diri
Menggerutu dalam otakku
Mendongkol dalam hatiku
Bersumpah serapah dari tenggorokanku
Mengapa begitu saja?
Mengapa aku diam?
Mengapa kau juga diam saja?
Oh, karena kau tak dengar.
Karena kau juga diam.
Karena kita semua diam.
Biarlah tumpangan kita ini melaju dengan sendirinya.
Biarlah kita diam saja di dalamnya.
Karena kita semua lembam.

4 September 2013, dalam perjalanan dari rumahku