Tampilkan postingan dengan label Hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari ini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

#Catatan Hmmm... Hari Ini Hari Selasa ...

Apalah yang hendak kutulis aku tak tahu. Biarlah engkau sendiri yang putuskan apa yang kutulis ini.

"Hari ini adalah hari Selasa." Anak TK belajar kalimat sederhana ini. Aku bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di kelas itu. Pada saat usiaku enam tahun kurang tiga bulan, aku sudah terdaftar sebagai siswa kelas satu sekolah dasar dekat rumahku. Jadi aku sudah sama pintar (terlalu sombong jika kukatakan "lebih dari pada") lulusan TK itu. Dan itu berarti aku sudah paham dengan kalimat sesederhana seperti itu. "Hari ini adalah hari Selasa."
Apa yang membuat hari Selasa ini begitu istimewa? Jangan tanyakan ini. Jawaban yang mungkin akan kamu dapatkan adalah hampir seperti jawaban untuk teka-teki dari Lewis Carol ini: "Mengapa burung gagak senang dengan meja tulis?" Tahukan jawaban teka-teki ini? :D
Tiada yang istimewa hari ini. Sementara beberapa jam lagi hari ini akan berakhir menurut perhitungan Masehi, aku katakan kepadamu bahwa tadi malam (atau bilang saja kemarin malam) aku bangun tepat pukul 00:00. Kurang lebihnya. Hebat? Hebat! Tidak! Kurang lebihnya begitu. :p
Baiklah tak usah berbasa-basi terlalu panjang dan lebar, aku tidak sedang membuat bendungan dan perahu dalam semalam seperti yang dilakukan Sangkuriang demi bisa menikahi perempuan pujaannya yang tak mau ia tahu bahwa dia adalah ibu kandungnya sendiri, kuakhiri saja tulisanku cukup sampai di sini. *Hah, akhirnya selesai juga. Capai sekali mengetik tulisan sepanjang ini!*  

Catatan: Tulisan ini tercipta lantaran aku tak tahu lagi hendak menulis apa. Puisi sepertinya sudah terlalu banyak mengisi blog ini. Cerpen? Susah sekali menulis satu saja: apa yang kutulis akhirnya akan menjadi sepenggal kisah yang tak utuh. Dan akhirnya jadilah tulisan ini. Curhat.

Kamis, 03 Januari 2013

Tuhan

2 Januari 2013

tak perlu menjadi Tuhan
untuk tahu pkiran-Nya
karena tak mungkin juga
percuma, tak akan ada yang bisa

Tapi hanya ada satu Tuhan
Dia mencipta manusia
Dia memberi harta serta kasih sayang
memberi raga dan jiwa
juga agama

Tuhan memang satu
Hanya manusia menganggap lebih
manusia ini ber-Tuhan yang ini
yang satu itu berlainan
manusia yang mau

Tuhan
tak mungkin manusia tahu siapa Dia
tak harus jadi diri-Nya
untuk tahu pikiran-Nya
jadilah saja makhluk yang baik

Surga pun neraka
tak boleh dilihat sebagai ancaman
ataupun rayuan
Tuhan tak begitu
Dialah Maha Penyayang

Tuhan diakui dalam agama
dan biarkanlah mereka yang tak punya
toh mereka masihlah ciptaan-Nya
dan pasti kita pulang kepada-Nya

Kamis, 29 November 2012

#Puisi 27 November 2012

(1) Kutulis surat sepucuk. Kubaca berita sepenggal. Kulipat kertas secarik. Kurangkai bunga bertangkai. Kuucap kata sepatah.

(2) Kuminum anggur segelas. Kumakan semangka sepotong. Kucinta engkau seorang. Kutangkap burung seekor. Kuracik ramuan sekuali.

(3) Kuhirup udara sehelaan. Kulihat bintang sekerlip. Kupandang matamu sekedipan. Kubawa pisang setandan. Kubunuh lalat seekor.

(4) Kuucap cinta sekata. Kupanggil namamu beribu kali. Kuselami lautan ratusan kali. Kuhabiskan sisa umurku denganmu. Itu yang kumau.

Langit malam sekali kelam. Langit siang panas menggarang. Cahaya menghilang hujan datang. Membawa luka dan kasih sayang.

Cahaya gemintang bersinar terang. Tetiba awan bergulung mencuri gunung. Gegara itulah bulan tertelan. Membawa malam seolah tenggelam.

Kupinta mati tuan tak beri. Kupinta harta tuan tak beri serta merta. Kupinta berhenti tuhan malah terus memberi. Ah tuan baik sekali.

I am left alone, you're gone. I'm perished twice. I'd say if I want. I didn't want be nice. If it's cracked my bone while you notice.

Minggu, 18 November 2012

#Puisi Hujan (yang Kesekian Kali)

Hujan menerangkan betapa jauhnya kita. Betapa dinginnya hawa yang menyelimutiku, mengingatkan jauhnya dikau. Hujan adalah dinding yang memisahkan kita.

Hujan akan mengiringimu salamku. Mengirimkan salam hangat. Hujan merupakan perantara salam hangatku padamu.

Sabtu, 17 November 2012

#Esai 5 cm, Pevita Pearce yang tak Terlupakan

13 November 2012

"Hari yang indah" kupikir begitu bukan karena hari ini berawan, mendung, dan akan turun hujan. Kupunya jemuran. Melainkan karena apa yang terjadi di siang hingga sore. Hari yang indah tidak saja susah dilupalakan tetapi juga menimbulkan perasaan bahagia.

Pukul sebelas Fia, teman sekelasku, mengajakku hadir di acara yang diadakan di kampus Fikom seusainya kelas. Dia akan pulang dulu ke kosannya dan akan berangkat ke tempat berlangsunnya acara bersama teman-temannya. Aku diminta menunggu di kampus. Kelas berakhir pukul dua belas, lebih cepat tiga puluh menit dari seharusnya.

"Toyib tggu di fikom skrg ya. Aku otw fikom"

"Ok," kubalas dengan singkat.

Masih ada waktu setengah jam sebelum acara dimulai. Solat lalu makan, memenuhi kebutuhan jiwa lalu raga. Jarak kampusku ke Fikom tidaklah jauh, jadi makan batagor bisa dilakukan sambil berjalan kaki.

"Disebelah mana?

Toyib deket pos satpam fikom"

Aku sendirian di kampus orang lain, ku sms Fia untuk memastikan aku tidak tersesat.

"Oke bentar ya.." Berarti harus menunggu beberapa waktu. Aku sendiri, namun tak lama dia datang bersama dua teman cewenya. Kami berempat pun segera ke gedung Moestapa Fikom, ya acaranya diadakan di gedung itu, di lantai empat.

Pukul satu siang, ternyata sudah banyak orang di dalam ruangan. Antusiasme yang tinggi. Oh, bukan acara nonton film ternyata, melainkan Roadshow film yang dimaksud. Disponsori oleh Pertamax Pertamina, maklum jika di bawah tadi kulihat spanduk-spanduk Pertamax dan Pertamina dibentangkan.

Mengisi daftar hadir dan mendapat snack, petugas di meja pendaftara peserta juga memberikan selembar kertas licin dengan warna merah mendominasi pewarnaannya. Tercetak tulisan "Apa Idemu untuk Indonesia yang lebih baik?" di atasnya.

Kami berempat memilih untuk duduk di deretan kursi sebelah kiri barisan tengah. Di depan kami , tepat di tengah-tengahnya terbentang spanduk Roadshow 5 cm dengan Pertamax sebagai sponsor utamanyama. Acara dimulai pukul satu lebih beberapa menit, dipandu seorang mahasiswa berambut kribo dan seorang mahasiwsi berambut sebahu. Mereka berdua kocak. Peserta disuguhi Tari Saman sebagai hiburan. Perwakilan Pertamax kemudian dipanggil ke atas panggung. Selebihnya dibicarakan "Apa Idemu untuk Indonesia lebih baik," jargon dan slogan Pertamax. Layar proyektor yang kecil di sudut kanan ruangan terus-menerus menayangkan iklan pertamax bernuansa etnis, versi tarian tradisional Indonesia.

Apa? Para pemain 5 cm the Movie akan hadir? Para peserta, terutama peserta cewe, berteriak dan menjerit histeris ketika nama Fedi Nuril disebutkan. Pevita Pearce juga akan hadir? Kedua pemain film itu, yang idenya untuk Indonesia ditayangkan berulang-ulang di proyektor, akan hadir di sini?

Selain keduanya, pemeran utama 5 cm yang lain juga akan mengisi acara. Denny Sumargo, Igor Saykoji, dan Raline Shah termasuk penulis novelnya Donny Dhirgantoro. Sayangnya Herjunot Ali, pemeran utama lainnya, tak bisa hadir. Jangan lupakan sosok ibu-ibu yang kelihatannya masih muda dari PH Soraya Film, yang selama acara berlangsung dipanggil Bunda. Acara berlangsung seru, penuh teriakan dan aksi jeprat-jepret kamera hape peserta. Bunda, kang Donny dan Lima pemeran utama 5 cm berbagi kisah suka-duka selama syuting, pra produksi film dan Denny yang kocak itu seperti mendongeng di hadapan ratusan peserta. Dia menghipnotis peserta dengan tingkahnya.

Dua orang peserta telah bertanya dan sebagai hadiahnya di berikan goodie bag. Kesempatan ketiga untuk peserta bertanya, kuacungkan tangan kanan dan Oh My God! Pevita memilihku sebagai penanya berikutnya. Aku maju dan Pevita menggandeng tanganku. Oh My God!

Aku dipersilahkan bertanya. Di depan aktor dan aktris 5 cm, di depan Bunda, di depan dua ratusan orang peserta aku berdiri. Di hadapan Pevita Perce aku berdiri. Kupegang mik, aku tak gugup untuk memperkenalkan diri dan bertanya. Sebagai imbalan pertanyaanku, Pevita Perce menyerahkan goodie bag, aku difoto bersama Pevita. Dia juga memberiku kecupan goodbye menggunakan tangannya. Aku melayang. Segera ku turun ke bumi, turun dari panggung yang tingginya tak lebih dari dua anak tangga. Bergegas ke tempat dudukku. Sebelum turun kulambaikan tanganku a la putri Indonesia, yang salah satunya ada di sini sebagai pemeran filmnya.

Oh My God! Hari yang indah, Pevita Perce dari film Lost in Love yang mengagumkan. Kini ia terlihat lebih dewasa, tuntutan peran mungkin.Tapi, untuk semuanya kuucapkan terima kasih. Pevita, kita berjumpa. Semoga lain kali kita bisa berjumpa lagi di lain hari yang sama indahnya dengan hari ini.