Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Apakah Beasiswa Kita Menganut Sistem Kapitalis? Tidak!

Oleh Zenyartha Imagemoslem
Sebagai tanggapan tulisan Apakah Beasiswa Kita Menganut Sistem Kapitalis? oleh Ridha Anshari Jiwa

Menurut penulis sih, bukan masalah pinter dan tidak mampunya tetapi kesungguhannya. Buktinya dengan diterapkannya sistem pemberian beasiswa kepada orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi tetapi pintar, kita sebagai penerima jadi terus semangat kuliah dan belajar karena tidak mau beasiswa itu dicabut. Beberapa rekan kita beasiswanya dicabut karena mereka ada yang menjadi malas-malasan kuliah karena mendapatkan beasiswa. Kalau sistem seperti itu merupakan sistem kapitalis seharusnya setelah lulus kita langsung ditarik kerja oleh donatur. Sementara kita tak terikat kontrak apa-apa kan selain selesaikan kulia tepat waktu dan tidak menikah selma kuliah?

Rabu, 17 Juli 2013

Apakah Beasiswa Kita Menganut Sistem Kapitalis?

Oleh Ridha Ansari Jiwa (@ridhajiwa)

Sebagaimana kita tahu bahwa dewasa ini ada banyak pihak, swasta maupun pemerintah, menawarkan beasiswa kepada siswa dan mahasiswa. Hal ini tentu disambut positif oleh berbagai pihak yang berkepentingan, karena ini akan meningkatkan kesempatan belajar. Tetapi coba perhatikan dan telaah: ada sesuatu yang "janggal" dalam sistem beasiswa ini.
Apakah itu? Yaitu, sang penerima beasiswa haruslah dari kalangan yang tidak mampu dan berprestasi, atau orang yang berprestasi.
Apakah hal ini tidak aneh?
Sekilas memang tidak terlihat aneh. Wajar jika sang pemberi mengharapkan orang yang terbaik menjadi penerima beasiswa yang diberikannya. Akan tetapi, tidakkah kita sadar bahwa ini adalah salah satu produk kapitalis? Iya, KAPITALIS. Penulis beranggapan bahwasanya hal ini hanya akan memintarkan orang yang telah pintar, melebihkan orang yang telah lebih tentunya tak jauh dari kapitalisme.
Bagaimana dengan orang yang tak mampu dan tidak pintar? Apakah mereka tidak berhak untuk mendapatkan pendidikan? Tentu saja. Mereka yang tidak mampu dan tidak pintar akan selamanya terjebak dalam kebodohan dikarenakan tidak mendapat kesempatan belajar. Apakah ini tujuan pendidikan kita? Absolutely tidak akan ada yang ingin ini terjadi.
"Pendidikan bukanlah hanya milik orang kaya", begitu kata orang-orang dewasa ini. Bagaimana kalau kita ubah pemikiran kita menjadi seperti ini: "Pendidikan itu adalah bukan hanya milik orang kaya dan pintar melainkan mereka yang memang kekurangan baik harta ataupun intelektual". Karena itulah hakikat dari pendidikan kita.
Memang tidaklah salah jikalau di era sekarang banyak pihak yang menawarkan beasiswa dan bantuan kepada orang pintar dan tidak mampu. Tetapi, ingatlah lagi bahwa ini adalah pendidikan yang merupakan salah satu tujuan negara kita. Jangan sampai sistem pemberian beasiswa dan bantuan ini pun terkapitalisasi zaman! Ya, pada akhirnya kita hanya bisa berharap kasus kapitalisasi ini segera diselesaikan dan kembali kepada hakikat pendidikan. Amin.

* Catatan Penulis:
Walaupun tulisan ini tidak ada yang mengindahkan karena penulis bukanlah siapa-siapa, setidaknya sebagai orang yang belajar tidak boleh berdiam diri. Tidak mengangguk-anggukan kepala mengiyakan apa yang terjadi. Karena tidak bisa dipungkiri, suara kita tidaklah akan didengar kalau kita tidak berkuasa ataupun kita tidak terkenal dan berpengaruh. Sebagaimana mahasiswa yang bukan aktivis dan pintar, hanya melalui tulisanlah penulis mencobanya.

Selasa, 02 April 2013

Tidak Lucu Sama Sekali!

Saya kos di di daerah Cisaladah, Hegarmanah Jatinangor, sekamar berdua dengan teman SMA dulu. Sudah hampir dua tahun saya hidup di kosan ini. Lokasinya yang dekat dengan kampus, sekitar sepuluh sampai lima belas menit jalan kaki melewati Balé Padjadjaran sampai ke kampus FIB Unpad, yang membuat saya betah berdomisili di sini.
Tapi, beberapa bulan belakangan terjadi beberapa masalah yang sangay mengganggu ketenangan hodup saya sebagai seorang perantau di Jatinangor berhubungan dengan kuliah (which is that scholarship) dan fasilitas yang tersedia di kosan. Pertama masalah beasiswa yang macet menyebabkan keterlambatan pembayaran biaya pokok pangkal kos dan biaya pembayaran listrik per bulan. Kedua masalah penerangan kamar mandi. Lampunya mati dan siapa yang mau mengganti? :'( Tidak ada! Saya dan teman sekamar saya jelas karena macetnya uang beasiswa. Tetangga-tetangga sekosan? Mereka juga tak peduli. Lalu pemilik pondokan pun sama sekali acuh terhadap hal ini. Buat bingung! Sangat bingung.
Oke, masalah keuangan bisa teratasi dengan sokongan dana dari orang tua. Meskipun saya tak pernah meminta tetapi mereka tak segan memberikan uang saku meskipun tak seberapa. Tapi saya tahu diri: jangan terus-terusan tergantung terhadap orang tua. Jadilah mandiri!
Masalah penerangan kamar mandi tak terlalu pelik sebeanrnya. Lampu hanya digunakan sewaktu-waktu yaitu malam hari saja. Tak harus terlalu dipusingkan. Tapi tetap saja, saya jadi takut ketika ada keperluan malam hari. Harus tahan sampai pagi!
:p
Nah, ini dia masalah yang paling pelik dan membuat semua hal kacau: saya terkunci dari dalam. Alhasil tak bisa masuk ke kamar! What the ... jangan diteruskan kalimatnya! Tapi apalah daya, apa hendak dikata? Inilah yang terjadi saat ini detik ini. What the ... lagi-lagi angan diteruskan kalimat ini!
Ceritanya begini: Lubang kunci kamar lepas dalam artian rusak, jadi tentu saja si pintu tak bisa dikunci dari luar. Sang Ibu Kos tahu hal ini dan tak ada tindak lanjut apa-apa. Dia hanya bilang: "Ini kalau diganti biayanya Rp50.000,-." (What the ... jangan diteruskan kalimatnya!) Terus teman saya punya "ide cemerlang" katanya. Jadi pintu diselot dari dalam dan selot jendela dibiarkan sehingga cara membuka pintunya asalah dengan mencongkel jendela dengan apa saja sampai terbuka dan kemudian buka selot pintu di dalam! Hebat kan? #Yeah
Ide tersebut berhasil dijalankan selama seminggu. Dan tadi pagi sebuah kesalahan besar terjadi: selot jendela terkunci! Siapa yang melakukannya? Yang jelas sayalah yang keluar belakangan dari kamar. Dan secara tak sengaja ketika menutup jendela selotnya pun ikut turun lalu mengunci jendelanya. Pada saat saya berlenggang saya tidak tahu bahwa hal tersebut terjadi.
Oh my God ...
Kemudian siangnya tiba-tiba teman sekamar saya sms. Dia beri tahu saya bahwa jendela kamar terkunci.
Kagetlah saya! Kasihan teman saya yang satu itu: dia tak bisa mengumpulkan tugasnya yang tertinggal di dalam kamar. Beberapa jam kemudian saya juga pulang dan memgadukan masalah ini ke Bapak kos. Akhirnya jendela pun harus dibongkar supaya bisa membuka pintu.

Keterangan gambar: Pintu dan jendela kamar saya yang terkunci.

Hikmah dari kejadian ini:
Jangan abaikan kerikil kecil karena bukan batu besar yang membuat kita tersandung dan lakukanlah pekerjaan anda hari ini jangan tunggu besok untuk menyelesaikannya. Jangan biarkan masalah kecil dengan mengabaikannya sebelum akhirnya masalah teraebut menjadi sangat besar dan kerugian kita akan berlipat-lipat ganda.

Jumat, 30 November 2012

Masalah Sistem Pendidikan Kita

Perlu Dipikirkan. Silahkan bagi pemikiran Anda di kolom komentar.

Sering kita melihat bahwa sampai selesai seluruh perkuliahan seorang mahasiswa belum mampu menetapkan masalah untuk penelitiannya. Salah satu sebab dari kejadian ini adalah proses perkuliahan yang memang tidak sesuai untuk mendidik peneliti yang berorientasi kepada struktur berpikir dan bukan semata analisis bersifat teknis. Hal ini diperburuk lagi keadaannya dengan kecenderungan untuk memberikan mata kuliah sebanyak-banyaknya dan bukan sedalam-dalamnya sehingga tujuan yang harus tercakup dalam proses pendidikan makin lama makin jauh. (FILSAFAT ILMU sebuah pengantar populer hal. 322 ~ Jujun S. Suriasumantri)

Senin, 12 November 2012

#Esai SOAL UANG BEASISWA

Ketika uang beasiswa belum juga digelontorkan, apa yang akan terjadi kemudian? Apa yang akan dilakukan mahasiswa penerimanya?

Awal tahun 2012 bisa jadi merupakan tahun kelam bagi mahasiswa penyandang beasiswa ini. Mengapa? Karena sudah dua bulan lebih tak menerima uang beasiswa itu padahal, uang beasiswa itu benar-benar dinantikan kedatangannya. Tak lain dan tak bukan karena uang itu sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mahasiswa penerimanya, terutama kebutuhan perut berupa makan.

Kalau sudah begitu maka bermacam-macamlah reaksi yang datang dari para penyandang beasiswa itu. Ada berbagai macam omongan keluar dari mulut mahasiswa yang kadung stres karena belum menerima satu sen pun uang beasiswanya. Maka munculah opini, desas-desus, dan pendapat yang bermacam-macam dalam berbagai parodi dan anekdot. Semua macam reaksi tersebut terbit di media sosial seperti facebook dan twitter selain di forum tak resmi seperti di dalam perkumpulan mahasiswa di kosan. Belum beranilah para mahasiswa ini menyelenggarakan sebuah forum resmi yang secara khusus membicarakan masalah ini.

Karena saat ini sedang hebohnya kasus sang mantan puteri indonesia Angelina Sondakh yang terkait korupsi wisma atlet itu. Belum diturunkannya duit beasiswa ini dihubungkan dengan kasus mbak Angie ini. Maka, dibuatlah isu bahwa uang yang seharusnya disalurkan sebagai beasiswa sedang digunakan untuk menyelesaikan kasus puteri indonesia itu. Ada-ada saja.

Atau hal ini dihubungkan juga dengan pembangunan gedung rektorat universitas yang sudah hampir 100% selesai. Maka jadilah sebuah kelakar yang menyebutkan bahwa uang untuk beasiswa mahasiswa ini dipakai dulu untuk pembangunan gedung yang dimaksud. Bisa saja memang, tapi apa iya? Tentu tak mungkin pasti benar. Namanya juga parodi dan anekdot. Maklumlah, mahasiswa yang sudah tak sabar ingin segera memegang uang dalam jumlah banyak (jatah tiga bulan) bisa saja berpikiran macam-macam. Hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh sifat mahasiswa yang bebas berpikir kritis. Sesuatu yang bisa membuat pecahnya gelak tawa dan menyunggingkan senyuman pengusir stres karena kuliah dan kegiatan kemahasiswaan lainnya.

Sabtu, 04 September 2010

#Esai SELAMAT DATANG DI DUNIA BARU

KULIAH berarti melanjutkan pendidikan selepas SMA.
Bukan berarti ini hanya mengisi waktu kosong saja melainkan ini adalah suatu tahapan istimewa untuk meningkatkan status sosial. Menjadi mahasiswa juga berarti memasuki dunia baru. Segalanya berbeda, dan sangat berbeda dengan yang namanya SMA. Kuliah berarti menjadi anggota masyarakat intelektual dan profesional. Dan menjalani kehidupan mandiri. Tentu saja karena tak lagi hidup seatap dengan orang tua. Ini juga berarti belajar untuk menjadi dewasa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Segala sesuatu harus dikerjakan sendiri. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Belajar mengatur kehidupan sendiri. Bertanggung jawab terhadap hidup yang dijalani sebagai pembekalan kehidupan di masyarakat nantinya.