Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

#Puisi: Cuaca

Panas. Dan kalau begini, lebih baik aku saja yang jadi kekasihmu, pacarmu, dan pendampingmu.
Dingin. Matahari bersinar terik di luar sana. Cahayanya tak bisa kugapai dengan jari-jemariku. Kakiku tak memijak tanah hangat di bawahnya.
Aku ingin hidup bergelimang cahaya dan kehangatan tetapi bukan di bawah naungan cahaya buatan serupa lampu bohlam neon melainkan matahari.
Hatiku tak terbuat dari batu cadas tetapi adalah sebongkah es batu, yang pasti akan mencair apabila terkena gelombang panas cahaya matahari.
Air yang mengalir sampai jauh, yang menuruni lereng-lereng gunung, mengikis bebatuan lembah, dan mengukir dataran-dataran rendah, bawalah aku ke samudera.

#Catatan: Bosan Hidup

Aku bosan hidup sebagai burung yang terbang bebas dalam kungkungan keterpisahan kebebasan. Aku ingin hidup dalam sangkar ajaran keselamatan.
Mengharap kematian tidaklah bijak, walaupun begitu ingatlah mati agar hidupmu tidak terlampau bebas tak beraturan. Jikalau ada banyak waktu untuk mengeluh, pastilah ada cukup untuk melakukan kebaikan.

Sabtu, 26 April 2014

#Fragment: Kubenci

Aku benci segala sesuatu hal tentang masa laluku, apa pun yang membuatku ingat semua itu dan pada orang yang mengingatkanku tentang itu.
Aku kehilangan diriku yang tersorot sinar matahari tengah hari. Atau aku tak pernah menemukan terangnya cahaya itu? Aku selalu berada di bawah bayang-bayang kelam dan semu masa lalu.

Rabu, 23 April 2014

#Catatan: Bagai mana Jika Aku Begini? Mengapa Aku Tidak Begitu Saja?

Pertanyaan-pertanyaan yang sama terus-menerus terulang dan diulangi dalam pikiran alam bawah sadar dan mengganggu kesadaranku ini selama bertahun-tahun sejak dahulu sejak aku masih kecil, anak balita mungkin, entahlah sampai saat sekarang ini aku hampir beranjak dewasa. Mengapa aku memiliki pandangan yang berbeda dari pada manusia normal yang lainnya? Mengapa aku memiliki kepribadian seperti sekarang ini? Bagai mana kalau aku menjadi si A? Atau mungkin si B? Bisakah aku lebih baik lagi jika aku menjadi si C? Aku melihat oang-orang yang kulihat itu sempurna, bisakah aku menjadi sesempurna mereka? Bagai mana caranya?

Minggu, 30 Maret 2014

#Catatan: Kulakukan Apa yang Kubisa Lakukan

Kulakukan Apa yang Kubisa Lakukan
30 Maret 2014; 17:40

Hampir setiap hari aku berkunjung ke sini: toko buku besar di sudut lantai dua mal kecil di kota kecilku. Jangan langsung menuduhku sebagai orang kaya, yang setiap saat bisa membeli buku baru terbit, fresh from the oven, di sini. Tapi kalau prasangkamu soal aku yang hanya numpang baca buku, kamu benar seratus persen. Haruskah aku beri poin seratus kepadamu? Silahkan ambil poinmu dari mana pun asal jangan minta dariku. Ha ha ha.
Tak ada larangan untuk melakukan itu, bukan? Tak akan ada hukuman karena apa yang aku lakukan ini tak melanggar hukum. Toh aku hanya menumpang baca buku yang sudah dibuka plastiknya. Aku tak pernah meminta seorang penjaga toko pun untuk membuka satu buku saja, karena aku tak berani. Memangnya pengunjung diperbolehkan meminta itu? Aku tak tahu karena aku belum pernah mencoba.
Tapi tunggu dulu! Aku tak selamanya menjadi penumpang baca buku gratis. Ada kalanya -sekitar sebulan atau dua bulan sekali- ketika uang beasiswa dicairkan, aku membeli satu atau dua buku dari sini sebagai bentuk pertanggungjawabanku karena telah mengizinkan si miskin ini untuk menimba ilmu dari satu dua lembar halaman dari beberapa buku yang sudah dibuka plastiknya. Rupiah yang aku keluarkan untuk memboyong maksimal dua buku itu pun aku tasbihkan sebagai sebuah bentuk rasa terima kasihku untuk toko buku dan para pegawainya yang telah memberikan tempat mengadu di kala aku merasa galau karena satu dan lain hal. Kamu mau tahu apa yang menyebabkanku galau? Lebih baik tak usah. Aku tak ingin menceritakannya sekarang. Tunggu lain kesempatan saja.
Mengapa pula aku begitu rajin berkunjung ke toko buku ini? Itu karena aku ini sudah dicap sebagai si "kutu buku" oleh guru-guru SD-ku dulu. Mereka semua pantas mendapatkan seratus poin untuk itu. Sama sepertimu juga yang berhasil menebak apa yang kulakukan di toko buku -di awal tulisan ini. Aku memang suka sekali membaca bacaan apapun -bahkan kepala sekolah SD-ku pun pernah menyindirku begini: "Dia ini saking sukanya membaca sampai-sampai kertas koran bungkus terasi pun tak dilewatkan untuk dibaca." Terima kasih bapak kepsek. Saya senang dipuji seperti itu. Tetapi mungkin -dan orang-orang yang disebut ilmuwan itu berteori bahwa orang yang gemar membaca akan memberikan keinginan kuat bagi seseorang untuk menulis. Aku setuju. Aku pun ingin dan selalu ingin menulis. Cita-citaku adalah menjadi seorang penulis. Banyak hal yang membuatku menginginkan menjadi salah satu dari kumpulan orang yang tulisannya dibaca orang banyak. Salah satunya adalah karena menulis itu mengasyikan. Ada yang mau membantah pernyataanku ini? Cobalah perbanyak bahan bacaan kalian dan rasakan datangnya keinginan untuk menulis sebuah cerita pendek saja atau puisi. Meskipun sudah banyak tulisanku -kebanyakan hanya menumpuk di hard disk laptop atau kartu memori handphone dan sebagian ada yang sudah diterbitkan di blog pribadiku- tetapi belum ada satupun yang terbit sebagai buku. (Loh, yang di blog itu tak dihitung?) Mungkin butuh beberapa waktu lagi baru ada minmal satu saja yang terbit menjadi buku. (Eh, apakah aku malas menghubungi penerbit di luar sana?)
(Lalu mengapa judul tulisan ini "Kulakukan Apa yang Kubisa Lakukan? Coba baca kembali dan simpulkan apa yang kumaksud)
Salam,

Sodikin Gross

Rabu, 12 Februari 2014

Mencapai Sekolah di Atas Awan dari Rumahku

Dari rumahku menuju sekolah yang mendapat julukan sekolah di atas awan itu kita akan menghabiskan empat jam perjalanan dengan empat atau lima kali berganti kendaraan. Dari rumahku kita akan menggunakan jasa tukang ojek sampai ke terminal kecamatan Wado. Lalu naiklah bus antarkota-antarprovinsi yang mana saja yang melewati tol Padalarang. Tidak banyak pilihannya diantara bus jurusan Jakarta atau Cikarang tetapi bertanyalah kepada orang-orang yang terlalu sedikit di terminal itu. Jika kita tak sedang beruntung maka naiklah bus mana saja yang pasti membawamu menuju tol Padaleunyi. Turunlah dari bus itu di pintu tol Cileunyi. Lalu carilah bus yang menuju Jakarta melewati Bogor atau Cianjur. Naiklah lalu minta turun di pintu tol Padalarang. Turunlah dekat gerbang Kota Baru Parahyangan. Dari situ carilah angkot berwujud oplet dengan trayek yang lewat Stasiun Padalarang. Turunlah segera apabila telah sampai di depannya.
Di stasiun itu temukan tempat di mana satu-satunya angkot terakhir yang akan kamu tumpangi ngetém (berhenti -red) dalam waktu yang membuatku harus menahan kencing. Angkot ini akan membawamu menuju surga dengan jalanan yang menanjak melewati berkilo-kilometer hamparan sayuran kol dan lobak serta jejeran kubung jamur merang. Sungguh pun kita harus bersabar sampai angkot ini berangkat dikarenakan harus menunggu sampai penuh oleh penumpang, hawa dingin di sepanjang perjalan akan membuatmu merasa ingin tidur di dalamnya. Jadi nikmatilah perjalananmu ini. Jangan lupa untuk beritahukan sopir angkotmu agar menurunkanmu di satu-satunya sekolah menengah atas berasrama di Cisarua sana.
Di situlah dulu aku bersekolah selama tiga tahun lamanya jauh dari rumah. Hanya pada saat libur semester dan lebaran saja aku pulang ke rumah dan mengulangi seluruh perjalan empat jam ini. Oleh karena itu, pandai-pandailah bersyukur bagi kalian yang bisa bersekolah dekat rumah. Dan tak ada hal apapun yang bisa menghalangi seseorang untuk tidak bersyukur bisa bersekolah jauh dari rumah apabila ternyata sekolah yang jauh itu adalah surga dan obat mata yang berada di ketinggian awan.

Kamis, 06 Februari 2014

#Draft #Fragmen Jika dan Hanya Jika

Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi manusia normal itu. Aku tak pernah merasakan menjadi manusia dengan pandangan lurus ke depan.
Sebagai seorang pemuda yang hampir beranjak dewasa, aku peduli pada penampilanku. Aku memperhatikan penampilanku dan membandingkannya dengan penampilan pemuda-pemuda seumuranku. Aku baru dalam hal ini: memperhatikan bagaimana anak laki-laki lain bergaya: berpakaian, menata rambut, merawat tubuh mereka, membentuk badan yang berotot. Aku ingin melakukan apa yang mereka lakukan. Aku iri kepada setiap laki-laki yang berpenampilan dengan sangat baiknya. Apa yang mereka perlihatkan menggugah dan membangunkan alam bawah sadarku: aku bisa berpenampilan sebaik mereka atau lebih baik lagi dari pada itu. Aku bahkan mungkin bisa menjadi model sampul majalah remaja atau bintang iklan di tv atau menjadi penyanyi atau bermain film. Tapi kupikir-pikir menjadi penyanyi bukan pilihan terbaik. Aku tak yakin suaraku bagus. Lagi pula apa yang sedang aku bicarakan ini tak ada hubungannya dengan suara. Aku tak perlu minder dan malu jika dan hanya jika aku ini normal. Hanya dan hanya jika aku tak memiliki cacat ini: mata kananku juling dan rabun jauh. Jika dan hanya jika kedua mataku sempurna. Aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Aku tak akan menjadi orang yang bersembunyi di dalam gua. Aku akan bisa menantang dunia jika dan hanya jika aku normal. Jika dan hanya jika mataku normal seperti manusia kebanyakan.
Pikiran tentang mata normal ini datang belum lama ini. Aku merasa menyesal telah dilahirkan dengan mata juling. Aku tahu kecacatanku ini bisa disembuhkan dengan jalan operasi senilai Rp 3 juta dan dengan biaya tambahan Rp 2 juta untuk perawatan pasca operasi. Tapi, dari mana bisa kudapatkan uang sebanyak itu sekarang? Pria berumur 21 tahun yang tak bekerja tak mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu kecuali meminta kepada orang tua. Dan karena keluargaku adalah keluarga tak mampu, apakah aku akan berani dan tega meminta kepada mereka? Jika dan hanya jika mereka memikirkan masa depan anaknya ini sedari dulu. Tapi aku tak boleh terus-terusan menggantungkan segalanya kepada kedua orang tuaku. Jika dan hanya jika ada orang yang berbaik hati membantuku, masalahku akan segera selesai. Atau aku harus segera bekerja menghasilkan uang sendiri aku akan bisa menyelesaikan masalahku sendiri secepatnya.

#Curhat

Dari SD dulu, aku selalu tidak menyukai siapapun pengajar yang telah ditunjuk untuk menjadi mentorku. Sekarangpun begitu. Tak tahu mengapa.

Aku Belum Mau Dewasa

Ditakar dan ditimbang dengan cara dan metode apapun juga, aku masih tetap belum dewasa. Bahkan aku menolak berhenti menjadi anak kecil.

Mantra

Mantra berikut ini mudah sekali luntur dari pakaian yang hatiku kenakan: bersabarlah dan bersyukurlah dengan apa yang dimiliki saat ini.

Sabtu, 04 Januari 2014

#Puisi: Angin Malam

Kurindu saat bersamamu. Dalam kegelapan dekapan kekhawatiran berselimutkan hawa dingin. Rangkulan kasarmu dan sentuhan acakmu.
Malam ini kusendiri. Dan bayangmu lewat di benakku. Kuingin kau menyentuhku. Kuingin kau dalam dekapanku. Bayangmu saja tak cukup.
Dinginnya kamarku ini sedingin hatimu saat ini dan sebeku hatiku ketika itu. Dinginnya semilir di punggung tanganku butuh hangatmu membuatku tersadar: aku membutuhkanmu.

Kamis, 19 Desember 2013

Surat Terbuka untuk Teman yang Tak Pernah Kuhubungi

Dear Friends,
Kita sudah lumayan cukup lama berkenalan,berteman, dan bersahabat. Di dunia nyata mungkin kita sudah jarang bertemu, akan tetapi di dunia maya aku masih sangat sering melihat status-statusmu.
Aku beberapa kali me-retweet statusmu atau menyematkan tanda suka dan seringkali aku terkikik membaca apa yang kautulis. Kadang-kadang ada rasa kesal karena aku tak suka dengan tulisanmu yang sedikit ekstrem. Terkadang aku juga mengomentarinya dan kau terkadang tak membalas komentarku lagi. Tak apa aku maklum. Mungkin kamu sedang sibuk mengerjakan tugas.
Aku juga kadang tak suka apalagi kamu me-like statustu atau mengomentarinya. Tapi mohon maklum, meskipun aku ingin statusku di-like, aku tak akan begitu suka apabila statusku yang menggambarkan penderitaanku dibaca orang. Aneh memang. "Tapi sudah sepantasnya kita jangan terlalu banyak mengeluh di media sosial" seseorang pernah bernasihat seperti itu.
Tapi kita paham bahwa kita masih labil karena kita masih remaja dan terlalu mudah menerima apa saja yang ditawarkan dunia melalui globalisasi. "Jangan cari siapa salah, kta harus berintrospeksi diri". Seseorang yang lain juga bernasihat seperti itu.
Kawan, aku merasa sedih juga dengan keadaan ini. Meskipun kita saling mengenal di dunia nyata dan aku punya nomormu -aku yakin kamu juga menyimpan nomorku- tetapi kita tak banyak saling berkomunikasi. Mungkin aku yang salah karena aku cukup egois dengan tenggelam ke dalam perasaa stresku dengan masalah-masalah yang kuhadapi. Dan aku sungguh egois dengan tidak datang kepadamu dan mencurahkan semuanya. Meskipun kamu tidak bisa membantu menyelesaikan masalahku, tetapi kehadiranmu akan bisa mengurangi bebanku. Karena kau adalah sahabatku. Maafkan aku karena kurang begitu percaya padamu, kawan. Maafkan aku.

Rabu, 13 November 2013

#Puisi: Rahasia

Punyakah kamu rahasia?
Temanmu pasti punya
Temanmu yang lain punya juga
Kamu, aku yakin juga punya
Aku pun punya beberapa
Dan satu ini takkan kukatakan kepadamu
Atau kepada siapapun
Tapi yang jelas, aku punya satu
Tentang masa lalu yang menyakitkanku
Rahasiaku takkan kuberitahu padamu
Karena ini rahasia

#Puisi: Mengasingkan Diri

Ke mana aku harus pergi?
Di mana kuharus bersembunyi?
Ke mana harus kusembunyi?
Di mana kubisa menyendiri?

Ke hutan atau ke pantai?
Ke dasar laut atau ke gunung?
Ke dalam gua atau ke pelabuhan?
Atau kusembunyi di sini saja?

Bukan kamu yang harus kujauhi
Buka dia yang harus kuhindari
Bukan dari mereka harus kumenjauh
Bukan, kuharus hindari diriku sendiri

Di sini kecewa di sana ragu
Di situ marah dan di mana-mana sesal
Di dalam sini bimbang di luarnya perih
Aku hancur aku selesai

Aku harus pergi jauh bersembunyi dari diriku sendiri

Jumat, 25 Oktober 2013

#Catatan: Teori Ini dan Itu

Teori: Orang akan takut terhadap hal-hal tak ia dikenal. Maka, simpulan dari teori tersebut adalah: kenalilah apa itu, mengapa menakutkan dan berusahalah agar kenal dengan hal tersebut maka kemudian kita tak akan merasa takut lagi dengan hal tersebut.
Hal apa saja menurutmu menakutkan? Bisa orang (dosen atau guru atau pengajar), tempat (rumah, bangunan, area, atau desa), benda (api, air, tanah, boneka, atau benda lain), dan lain-lain. Kenalilah. Pegang satu teori ini: berusalah berkenalan dengan mereka.

Kamis, 24 Oktober 2013

#Catatan: Hidupku Harus Berubah (Lebih Baik)

Hidupku berantakan seperti ini, tak tahu mulai kapan. Akankah aku bisa membereskan semua ini? Tapi kapan? Hidupku perlu ditata ulang. Harus.
Kata orang, orang lain berkata: Mulai dari sekarang, Mulai dari sini, dan Mulai dari diri sendiri. Aku mau begitu tak juga tak mudah. Harus.
Bisa, harus bisa. Sudah ada kemauan, haruslah ada jalan. Mungkin mauku masih belum cukup? Harus kutambah. Harus.
Mulai dari detik ini aku harus memperbaiki hidupku. Perbaiki lagi. Terus mencoba. Lagi dan lagi. Terus mencoba. Ini harus dicoba. Harus.
Haruslah kujalani mulai saat ini dari sini (hati). "Cepatlah bertindak, berubahlah menjadi lebih baik." Kataku pada diriku. Harus. Aku harus berubah. Ini harus.

Sabtu, 19 Oktober 2013

#Catatan: #Puisi Lain Kali

Lain kali, apabila ada lain kali
Keluarlah ketika masih pagi
Saat mentari sebelum ia tinggi
Lain kali, kalau ada lain kali
Datanglah lebih pagi
Sebelum matahari pergi
meluncur dari tempat tinggi

Rabu, 16 Oktober 2013

#Catatan (#Esai) Mengobrol dengan Orang Itu ... Sesuatu

16 Oktober 2013
Bisa mengobrol dengan "orang asing" adalah pengalaman yang sangatlah seru. Dia si orang asing itu tak harus selalu bule dari Eropa atau Amerika. "Orang asing" yang duduk bersebelahan di bus kemungkinan besar adalah pembawa kunci peluang sukses di masa depan. Bisa jadi orang yang tidak kita kenali dan duduk di sebelah kursi kita merupakan orang yang akan memberikan bantuan atau mungkin juga membutuhkan bantuan kita. Dan semua manusia di dunia ini memiliki keterkaitan. Selalu begitu. Dan seperti yang kualami hari ini.
Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 6 kurang lima belas menit. Pagi sekali. Kemudian menunggu beberapa lama di daerah Tugu, Wado sampai datang bus yang akan mengantarkanku ke tujuan, Jatinangor. Berangkatlah busku sekitar pukul 6 lebih. Awalnya bus lengang kemudian pada saat bus sampai di daerah Situraja, baru sekitar seperenam atau seperlima perjalanan, bus mulai penuh sesak. Beruntung aku sempat pindah ke kursi di depan pintu depan ini tadi, sehingga aku bisa duduk selama dua jam ke depan sebelum sampai di Jatinangor.
Kemudian naiklah seorang pemuda berkemeja kotak-kotak hitam-putih, bukan biru maaf. Kulihat wajahnya seolah tak asing. Meskipun kutaksir umur lelaki ini lebih tua dariku dan adik angkatanku di SMA yang kupikir mirip itu. Dan satu hal yang membuatku penasaran adalah handphone yang dipakainya. Oh, itu smartphone buatan Finlandia! Aku sungguh tertarik dengannya, maksudku handphone-nya. Dan karena itulah aku menjadi penasaran untuk berbincang dengan "orang asing" ini.
Tidak terjadi percakapan sampai sang target operasi duduk di kursi di sebelahku. Sebelumnya dia berdiri di depan kursi siswi SMK yang sekarang didudukinya. Dia berdiri di depanku sehingga aku bisa mengawasinya. Dan akhirnya pada saat teman SMK kita turun, dia duduk. Aku belum berani bertanya apa-apa kepadanya sampai bus melaju dengan kencang melewati Terminal Ciakar, Sumedang hingga berhenti di pool MS. Harus kalian tahu bahwa bus Medal Sekarwangi adalah bus yang kutumpangi ini. Sudah beroperasi cukup lama di Sumedang dan sepertinya sudah menjadi salah satu yang paling berkuasa di sini.
Aku hanya bertanya "Mau ke mana, Aa?" Bagus sekali ketika dia menjawab "Mau ke Cicaheum. Kamu?" Tidak buruk sebenarnya saat aku bertanya lagi apa yang dia tanyakan. *Alasan* Dan terimakasih sudah mengulang pernyataan dan pertanyaannya. :D Oh ya, aku jawab begitu saja: "Ke Jatinangor." Lalu ketika aku akan bertanya lagi dia malah terlihat mengantuk, dan benar-benar tertidur. Baiklah, dan oleh karena itulah aku pun tidur. Tidak seperti biasanya, kali ini aku bisa begitu terlelap di bus. Aneh. Sungguh sangat tidak biasa apa yang kualami hari ini.
Ketika aku tersentak bangun, kulihat bus sudah melaju beberapa jauh. Kulihat pula teman sebangkuku masih terlelap dengan tenangnya dalam tidurnya. Aku pun masih mengantuk. Kupejamkan kembali mataku. Dan tiga kali kuulangi hal itu. Sampai pada saat ketika teman asingku benar-benar terbangun -kutahu dengan melihat jari-jemarinya yang sibuk memainkan smartphone Finlandianya itu- maka aku pun tidak mengantuk lagi. Aku pun merogoh handphone-ku dari dalam tas untuk mengecek twitter dan sms. Ah iya, ada satu sms dari temanku yang menanyakan ada tidaknya kuliah hari ini pukul setengah sebelas. Dan tak ada sebutan baru di twitter.
Kemudian betapa kagetnya aku saat teman sebangkuku tiba-tiba berkata-kata. Saking kagetnya sampai kubertanya balik apa yang dia tanyakan. "Di Jatinangor tinggal di mana?" Kujawab: "Di Cikuda." Lalu kakak itu berkata: "Saya punya teman yang tinggal di Cikeruh." Aku akhirnya hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Kupalingkan pandanganku ke luar kaca bus dan pemandangan di luar memberitahuku bahwa tujuanku sudah hampir dekat.

Jumat, 11 Oktober 2013

#Puisi: Tak Ada Bukti

Aku hanya akan malu oleh diriku, di depan orang tuaku dan semua orang siapapun itu: aku tak bisa buktikan bahwa aku mampu berdikari.
Tak akan ada apapun yang bisa kuperlihatkan pada dunia, semua orang tak akan ada yang percaya apabila kuberkata: aku bisa! Tidak akan ada.
Habislah perkara begitu saja. Setelahnya aku sendiri kembali merenungi dan menyesali: aku tiada mampu berguna.
Kepada ayah dan ibu, tak akan luntur sedih mereka dalam hitungan hari beribu-ribu: apabila aku terus begitu dan begini tiada berubah.
Aku belum bisa dan mungkin tak akan bisa jadi anak kebanggaan mereka berdua: tiada bukti untuk itu, tiada buktinya.
Aku hanya akan malu oleh diriku, di depan orang tua dan semua orang siapapun itu: aku tak bisa buktikan bahwa aku mampu berdikari. Berdiri di kaki sendiri. #Puisi

Selasa, 08 Oktober 2013

#Catatan Kita Terjebak Hujan

Sore hari pukul setengah lima tanggal 8 Oktober 2013 ...
Hujan turun, awalna rintik-rintik. Lalu kemudian menjadi lebat. Langit biru cerah kemudian menjadi gelap, itu yang kau sebut mendung kawan, mengikuti hujan atau bahkan menggiring hujan, entahlah. Tapi aku tak akan berbicara begitu jika aku tak terjebak di sini. Bersama orang-orang asing itu, kita semua terjebak di sini, sama-sama berteduh dari hujan yang mengguyur.
Baiklah, sekarang hujan mereda dan aku bisa pulang. Kita semua bisa pulang ke rumah masing-masing. Ayo pulang. Kita sudah tak terjebak lagi oleh hujan.